Beranda > ARTIKEL, KARYA SENI RUPA > Kurasi, Kurator dan Kuratorian

Kurasi, Kurator dan Kuratorian



Oleh Ansar Salihin*)

Kurator adalah sebuah profesi setingkat dengan manager atau supervisor. Kurator bertugas menjaga, mengumpulkan, menata, bahkan menentukan barang apa saja yang boleh ditampilkan dalam museum atau pameran seni. Di Indonesia, belum ada sekolah tinggi atau kejuruan yang mengajarkan khusus tentang seluk beluk Kurator. Berbeda dengan negara-negara barat yang sudah memiliki sekolah khusus untuk profesi ini.

Dalam ruang lingkup seni rupa, Kurator bekerja ibarat seorang produser sekaligus sutradara. Seniman bisa saja membuat karya yang menurut dia hebat. Tapi jika Kurator tidak menginginkan karya itu dalam pameran, maka karya itu tidak akan ditampilkan.

Pada awal sejarahnya, Kurator bekerja untuk penataan koleksi museum. Entah itu koleksi barang bersejarah, atau artefak seni dan budaya. Lama waktu berselang, pekerjaan kuratorial merambah ke rancah pameran seni rupa. Adanya “diskriminasi” tentang penampilan karya seni, kemudian merangsang kemunculan Kurator independent. Tapi ternyata Kurator independent tidak memiliki jaringan yang luas dan terpaksa mengadopsi pola kerja Kurator mainstream. Hal ini memunculkan kekecewaan mendalam dan kemudian memunculkan istilah artist-curator, dimana sang seniman itu sendirilah yang berperan ganda sebagai Kurator.

Praktik kerja kuratorial dalam seni rupa di Indonesia bukanlah sebuah ‘profesi’ yang hadir bersamaan dengan praktik seni rupa modern yang kita akomodasi dari dunia internasional (Eropa-Amerika). Praktik ini baru mulai secara wantah dipraktikkan pada dekade 90an. Beberapa kurator seni rupa yang sekarang dikenal di tanah air, mengawali dirinya dengan sebutan penulis seni, dan kebanyakan berasal dari bekas (atau kerja sambilan dari) praktisi seni rupa.

A. PENGERTIAN KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL

Kata Kurasi berasal dari bahasa Inggris yaitu curation, dari kata ini berkembang kata kura curate, curator, dan curatorial. Kemudian di Indonesia di sepakati dengan nama kurasi, kurator dan kuratorial. Dalam wester New 20 centure dictionery, curation berasal dari bahasa latin cura, curatum (to take care of) berarti menjaga, merawat, atau seseorang yang menjaga atau memilihara, memperhatikan dan mengawasi segala sesuatu seperti perpustakaan umum, musium, koleksi seni rupa dan sejenisnya.

Secara etimologis Istilah kurator (curator) berasal dari bahasa yunani kura, berati merawat dan menyembuhkan (cure) atau peduli (care). kemudian dalam The Consice Oxford Thesaurus (1995) mengacu pada keeper, custodian, conservation., guardian, caretaker, stewart yang dapat diartikan orang yang menangani pekerjaan yang berhubungan dengan memilihara, memperhatikan, menjaga, membenahi, sampai menyuguhkan kembali sesuatu artifak/ objek.

Kemudian Kuratorial (Curatorial) merupakan pengetahuan atau pemehaman akan benda-benda (artifak). Sedang secara menyeluruh tugas kurator adalah memberi jasa perencanaan dan pelaksanaan suatu pameran seni rupa, dimana di dalamnya adalah selain praktek pameran, tetapi juga dapat membangun wacana representasi seni yang dibuat. Dasar-dasar kurasi inilah yang nantinya dapat mencerminkan kondisi situasi, visi dan misi serta citra yang dibangun dalam pameran.

Dari pengertian di atas dalam seni rupa ketiga istilah tersebut dapat dibedakan, kurasi merupakan kerja atau kegiatan yang berhubungan dengan memilihara dan menjaga serta mengawasi sebuah kegiatan pameran seni rupa. Kemudian kurator adalah orang yang mengerjakan kegiatan tersebut mulai dari persiapan, pelaksanaan, pemasaran sampai selesai sebuah pameran. Sedangkan kuratorial adalah ilmu yang memeperlari tentan pengetahuan dan pemahaman yang berhubungan dengan pemiliharan, menjaga, dan pengawasan sebuah karya seni rupa yang dipamerkan disebuah tempat seperti musium, galeri dan sebagainya.

Kegiatan kurasi pertama-tama dikenal di duna barat (Eropa dan Amerika Utara) di musium-musium nonseni rupa seperti musium sejarah, musium biologi yang mengoleksi spesies-spesies binatang yang ada, perpustakaan, dan musium antroplogi. Tugas kurator adalah menjaga dan merawat item-item koleksi yang ada di bawah kewenangannya.
Kata-kata kurator (curator), kurasi (curation), kuratorial. Pengkurasian, serta kekuratoran sering bergulir dalam wacana dalam seni kontemporer, sudah sering diucapkan dan ditulisakan, namun makna-makna yang kontekstual dengan seni kontenporer belum sempat masuk ke dalam kamus. Dimanika yang terus terjadi dalam praktik merepresentasikan karya seni membuat persepsi terhadap apa itu kurator dan kekuratoran terus berubah.

B. KERJA KURATORIAL

Kerja Kuratorial mempunyai kekhasan perspektif. Misalnya kerja kuratorial mengenai pentingnya peran kurator pada sebuah pameran dan cerita Sujud Dartanto yang melirik Australia sebagai tempat belajarnya menekuni profesi sebagai kurator. Lain lagi dengan Kuss Indarto yang mempunyai kekhasan dalam proses kerja kuratorial dalam pengalaman dan opininya kepada GudegNet.

Kuratorial adalah kerja pembentukan ide besar sebuah pameran. Yang utama adalah membentuk intelektual framework. Hal inilah yang akan menemukan titik beda atau pilahan-pilahan yang membingkai karya-karya itu. Mengaku tak sengaja masuk ke dalam dunia kuratorial, Kuss Indarto mengawali karirnya dari menulis kritik seni rupa di katalog ataupun surat kabar. Ia kemudian mengadopsi kecenderungan seni rupa di Barat bahwa kerja kuratorial itu bukan kerja seorang EO (event organizer) semata.

Honor sebagai kurator di Indonesia masih memprihatinkan. Proses awalnya, kurator membuat proposal pameran pada galeri. Kemudian kurator membuat kontrak dengan galeri dan mengajukan rancangan budget yang diperlukan untuk kepentingan pameran itu. Di dalam kontrak itulah fee kurator juga sudah tertera.

Kini, managerial sebuah pameran telah lebih profesional dengan tidak lagi memposisikan kurator sebagai tukang urus katalog, penulis kata pengantar di katalog ataupun tukang angkut karya. Ada bagiannya sendiri-sendiri sehingga memudahkan kurator untuk fokus pada gagasan awal, tawar menawar seniman siapa saja yang akan diundang berpameran. Seringkali galeri-galeri lebih cenderung mempertimbangkan profit oriented dan telah menunjuk seniman-seniman yang sekiranya laku padahal tidak sesuai dengan gagasan pameran.

Praktik kerja kuratorial dalam seni rupa di Indonesia bukanlah sebuah ‘profesi’ yang hadir bersamaan dengan praktik seni rupa modern yang kita akomodasi dari dunia internasional (Eropa-Amerika). Praktik ini baru mulai secara wantah dipraktikkan pada dekade 90an. Beberapa kurator seni rupa yang sekarang dikenal di tanah air, mengawali dirinya dengan sebutan penulis seni, dan kebanyakan berasal dari bekas (atau kerja sambilan dari) praktisi seni rupa. Menariknya, yang secara aktif mempraktikkan kerja kurasi ini justru adalah galeri-galeri komersial (private gallery) yang membutuhkan peran praktik kerja ini dalam rangka menyediakan dan mempromosikan karya-karya seni rupa ke pasar.

Perkembangan praktik kerja kuratorial di Indonesia, karena banyak disemai melalui galeri-galeri komersial menjadi identik dengan praktik kerja kuratorial pameran (exhibition curator). Yaitu kerja-kerja kurasi yang ditujukan khusus untuk sebuah pameran tertentu. Kecenderungan yang terjadi adalah praktik-praktik kurasi dengan tema-tema tertentu yang tidak didasari oleh perspektif perkembangan yang berkesinambungan. Praktik kerja kurator yang lain, seperti riset, akuisisi karya, dan konservasi karya menjadi terabaikan.

Kegiatan kuratorial di lembaga seperti TBY, idealnya adalah kuratorial yang berbasis pada riset. TBY dapat membentuk divisi kuratorial untuk masing-masing klasifikasi seni yang berkembang di Yogyakarta, misalnya kurator divisi seni tradisi, kurator divisi seni kontemporer, kurator divisi seni nusantara, dan sebagainya. Masing-masing divisi mempunyai kurator kepala dan dibantu oleh beberapa asisten kurator yang bekerja dalam melakukan riset terhadap wilayah kajian masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan lembaga lain, seperti ISI Yogyakarta, UGM, dan kampus-kampus lain dalam menyediakan sumber daya, atau dengan Lembaga Biennal, organisasi yang lain

Kurator dapat berasal dari berbagai disiplin keilmuwan, terutama yang berkaitan dengan seni dan budaya, seperti antropologi, sosiologi, filsafat, sejarah, kajian budaya, sastra, arsitektur, arkeologi, kajian seni, dan sebagainya. Peran kuratorial ini adalah dalam hal memberikan pertanggungjwaban ke publik secara intelektual mengenai karya seperti apa yang tampil dan layak dibicarakan dalam suatu masa. Kurator juga bisa berperan dalam proses akuisisi karya dan mempertanggung- jawabkannya ke publik.

C. JENIS KURATOR

Ada beberapa macam kurator sesuai dengan stutus apakah ia terikat pada satu institusi atau tidak, diantaranya:

1. Kurator Independent

Kurator independen adalah seseorang yang bekerja menyelenggarakan suatu pameran baik di dalam atau luar negeri. Kurator ini karya seni atau desain yang secara utuh ia yang menentukan tema tertentu. Dengan ini kurator mengetengahkan satu realitas dari berbagai realitas kesenian atau desain yang menurutnya menarik. Misalnya seorang kurator independen mengadakan sebuah pameran dengan tema “Alam” maka karya-karya yang boleh ikut dalam pameran tersebut adalah karya yang bertema alam.

Seorang kurator independen secara secara administratif tidak masuk ke dalam suatu lembaga formal-museum seni atau galeri seni. Ia menyelenggarakan suatu pameran karena diundang atau atas inisatuf sendiri. Dana pameran pameran ia proleh dari satu atau sejumlah perusahaan atau institusi yang sanggup mendukungnya. Tidak sedikit semula kurator independen bekerja di sebuah musium atau galeri seni, kemudian melepasakan diri menjadi kurator independen untuk mendapatkan kebebesan dalam kuratornya.

2. Kurator Pendamping

Istilah co curator atau kurator pendamping juga muncul dalam wacana seni kontemporer. kurator pendamping bertugas mendampingi seorang kurator memasuki suatu wilayah yang belum dikenalnya secara baik untuk memilih beberapa karya dari wilayah itu untuk sebuah pameran besar bersama yang berjangkauan internasional. Misalnya pameran seni rupa Asia pasifik yang mengikutkan beberapa negara di Asia. Ini perlu adanya kurator pendamping dari setiap wilayah. Kurator pendamping inilah nantinya yang mengusulkan kepada kurator karya mana yang layak untuk di pamerkan.

3. Kurator Negara

Istilah ini dipakai dalam satu perhelatan seni yang terdiri dar beberapa negara. Misalnya ketika ada sebuah perheltan besar seni yang menampilkan karya-karya dari sejumlah negara, semisal, pameran seni rupa kontenporer negara-negara ASEAN. Biasanya dalam forum ini ada seorang kurator kepala yang mengkoordinir kurator dari masing-masing negara. Dan kurator wakil negara inilah yang memilih serta membuat ulasan untuk karya-karya yang dipilih dari negaranya.

4. Kurator Kepala

Kurator kepala adalah kurator dalam kegiatan pameran besar, yang tidak bisa dikoordnir sendiri. Kurator kepala merupakan pimpinan dari kurator bagian dan kurator wakil negara. Ia memimpin segala kegiatan dalam suatu kegiatan besar. Meskipun yang memilih karya adalah kurator pendamping dan kurator wakil negara dalam sebuah pameran besar. Namun yang mengambil keputusan tertinggi adalah kurator kepala.

5. Kurator Musium

Kurator museum adalah kurator yang bekerja disebuah museum, baik itu museum sejarah, seni rupa dan sebagainya. Tugas kurator ini adalah menjaga dan memilihara karya yang ada dimuseum serta menyelnggarakan pameran-pameran di museum tersebut. Kurator museum sifatnya tidak bebas, ia terikat dengan aturan dari museum tersebut, ia juga harus menjaga nama baik museum. Karena kualitas karya-karya yang ada dimuseum ditentkan oleh kurator museum tersebut.

6. Kurator Galeri

Kurator Galeri adalah kurator yang bekerja disebuag galeri seni rupa baik itu galeri nasional maupun galeri internasional. Kurator galeri sifatnya sama dengan kurator museum, tidak dapat bebas sendiri. Ia terikat dengan aturan tang ada di galeri tersebut. Tugas kurator galeri adalah menjaga dan memilihara karya yang ada di galeri, menyelenggarakan pameran-pameran dari luar di Galeri, mempublikasikan dan memasarkan karya yang dipamerkan di galeri. Tidak semua galeri memilki kurator, hanya galeri-galeri tertentu yang memilki kurator khusus seperti Galeri nasional dan internasional. Sedangkan galeri daerah jarang memilki kurator, walaupun ada kuratirnya bekerja sebagai kuraor independen.

KESIMPULAN

Kurator secara umum merupakan sautu kegiatan yang berhubungan dengan menjaga, memilihara, merawat dan mengatur sebuah benda di suatu tempat tertentu, misalnya museum, galeri, perpustakaan dan sebagainya. Sedangkan secara seni rupa kurator adalah suatu kegiatan yang untuk menjaga, merawat, memilihara, mempublikasikan dan memasarkan karya seni rupa yang berada dimuseum atau di galeri atau tempat pameran lainnya.
Kegiatan untuk menjalakan tugas tersebut disebut dengan kurasi (curation), kemudian orang yang menjalakannya disebut dengan kurator (curator). Sedang ilmu, pengetahuan dan pemahaman tentang kerja kurator dan kurasi disebut kuratorial.

Kerja kurator merupakan sebuah profesi sebagai jembatan karya seni antara seniman dengan masyarakat. Kurator berperan menyampaikan pesan kembali dari karya seni kepada masyarakat umum. Tidak hanya itu, dalam sebuah pameran kerja kurator mulai dari persiapan, menentukan tema kegiatan, memilih karya yang dipamerkan, bagaimana menyusun karya tersebut, menulis katalog, memberikan penilain kepada karya serta menyampaikannya kepada pengunjung. Bahkan sampai kepada siapa karya tersebut layak dipasarkan, begitulah pentingnya peran kurator dalam seni rupa.

Ada beberapa macam kurator sesuai dengan stutus apakah ia terikat pada satu institusi atau tidak, Diantaranya: Kurator Independen (independent curator), kurator pendamping (co-curator), kurator wakil negara (country curator), kurator kepala (chief curator), kurator musium dan kurator galeri seni.

DAFTAR PUSTAKA
Mike, Susanto. 2002, Diksi Rupa Kumpulan Istilah Seni Rupa, Kanisius anggota IKAPI: Yogyakarta.
Marianto, M.Dwi. 2002, Seni Kritik Seni, Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarya: Yogyakarta

*) Penulis Adalah mahasiswa Jurusan Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padangpanjang

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s