Beranda > Cerpen, KARYA SASTRA > Berakhir

Berakhir

5708_604173412941823_369568233_n1Cerpen Tiara Mairani

Tiup angin begitu dingin menusuk ke dalam hati. Deras hujan begitu keras berdesir mendadak di jantung ini. Raga gemetar dingin serta takut gelap datang beserta petir mensilaukan mata hingga mengguncang jiwa. Tak ada jangkrik ributkan malam, tak ada bintang menyinari gelap malam hanya bulan berdiri sendiri tampa teman lalai malam menjelang esok datang dengan langit biru terangi mentari bersinar dengan embun penyejuknya.

Seakan malam ini bagai musibah bagiku. Raga tersiksa cuaca jiwa tersiksa tekanan hati. Rasanya aku ingin mati saja menghadapi semua ini, namun impianku belum ku gapai. Aku ragu tersiksa akan semua ini, hanya hujan, sunyi dan kegelapan malam yang tahu keadaan ku. Tak ada yang peduli. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak ada yang memperdulikan diri ku. Orang tua selalu ribut setiap malam disaat berjumpa sesaat setelah kembali pulang dari pekerjaanya, apa saja menjadi masalah. Ini itu apalah masalah terus. Selalu sibuk dengan karir masing-masing tak peduli anak-anak.

Seperti papa tidak pernah perhatian sama mama dan anak-anaknya. Mama mulai berlaku aneh karena ketidakpedulian papa pada mama. Papa selalu sibuk bekerja tampa memikirkan mama. Mama mulai sibuk arisan, mencari kesibukan menjual pakaian bersama teman-temannya dan kami bersaudara ya sudah urus diri sendiri. Kakak ku yang pertama tidak pernah pulang lagi ke rumah karena mama dan papa selalu bertengkar. Dia tinggal di rumah nenek di kampung. Dahulu nenek pernah bilang bahwa hidup di kota itu tidak mudah begitu keras. Jika kalian yakin dan mampu menerima keadaan apa adanya tanpa adanya permasalahan semua akan baik – baik saja dan selalu saling peduli dan pengertian. Tetapi apa, keras kepala papa dan mama terhadap orang tua menghancurkan kebahagiaan keluarga.

Kakak laki-laki ku bang Fadly telah memilih meninggalkan kami sekeluarga karna ia merasa tertekan karena keadaan keluarga. Kakak kedua ku Vani selalu seperti orang stress dan selalu menutup dirinya. Itu semua karena hilangnya perhatian dan kepedulian orang tua pada kami. Dan aku sendiri sebagai anak yang paling kecil, aku hanya diam dan tak dapat banyak bicara. Mengurus diri sendiri dan terpisah jauh dari abang ku Fadly. Dia memilih kuliah di kampung dan bekerja di sana. Kata bang Fadly dia merasa tenang di sana. Tak ada orang yang bertengkar suasana kampung yang damai, sejuk dan tenang tidak seperti di kota. Sekarang bang Fadly telah bekerja di Bank di kampung sebagai kariawan tetap administrasi perbankkan.

Kemudian kak Vani baru saja wisuda, tetapi dia banyak di rumah berdiam diri dan sering menangis karena hidupnya begitu berat. Tak hanya kecewa akan keadaan orang tua tetapi kecewakan juga oleh pacarnya bang Robby. Dia janji akan menikah dengan kak Vani setelah wisuda ini tetapi apa nyatanya. Baru tiga bulan setelah tunangan dengan kak Vani. Bang Robby janji kembali setelah pulang kampung untuk mengatakan bahwa dia mau menikah dengan kak Vani secepatnya. Tettapi, nyatanya dia tidak dibolehkan menikah dengan kak Vani oleh ayahnya. Ayahnya mau bang Robby menikah dengan keponakannya. Apa daya bang Robby tak dapat mengelak, dia menikah dalam terpaksa dengan keponakan ayahnya. Semua hal itu disampaikan oleh ibu bang Robby pada keluarga ku. Kak Vani sangat terpukul. Semenjak itu kak Vani berdiam diri dan menangis. Begitu berat hidup dijalani oleh kakak ku.

Aku harus bagaimana lagi, begitu rintihan Annisa pada ku.

Aku juga tidak dapat berbuat apa Nisa ungkap Sandy.

Annisa menjawab, iya aku harus bagaimana lagi Sandy. Keluarga ku telah hancur dan aku harus bercerita pada siapa lagi kalau bukan padamu Sandy. Aku begitu percaya padamu karena kita sejak kecil telah berteman dan kamu begitu sangat menjaga ku dari berbagai bahaya dan kamu selalu ada untuk ku. Terima kasih ya Sandy.

Sandy menjawab, iya Nisa. Itu yang dapat aku beri pada mu. Diriku ini akan selalu ada untuk mu. Apakah kamu masih yakin bahwa kamu tidak mau pacaran dengan siapapun ?

Annisa menjawab, iya aku tidak mau disakiti dan menyakiti orang lain.

Kenapa Nisa, apakah kamu tidak mau mencoba. Kamu kan sudah kuliah tentunya akan mencari pasangan hidup. Ungkap sandy.

Aku belum siap dan aku tidak mau menyakiti orang lain. Kata Nisa.

Sandy kembali bertanya, Kenapa Nisa ? Jika aku meminta menjadi penjaga hati mu dan selalu dengan mu, bagaimana ?

Maksud mu, kamu menyukaiku ! Jawan Nisa.

Sandy menjawab, iya. Aku ingin selalu menjadi sandaran tangis mu dan selalu menjaga mu.

Maafkan aku. Bukan aku tidak mau tetapi aku takut. Ungkap Nisa.

Iya kenapa. Kamu tidak yakin padaku . Jujur sejak kita kecil dan sejak kita mulai berteman aku takut sekali kehilangan mu Annisa. Kata sandy.

Iya, aku juga tetapi aku takut, kata Nisa.

Takut kenapa lagi Annisa? Tanya Sandy.

Baiklah akan aku ceritakan semua padamu. Aku tak ingin hubungan ku seperti mama dan papaku dan seperti kak Vani. Itu sangat menyakitkan. Kak Vani gagal menikah, mama dan papa mau bercerai dan bang Fadly tidak mau tau lagi dengan semua masalah di keluarga ku lagi. Aku tidak sanggup itu semua juga terjadi padaku. Aku berharap dan meminta disetiap sujud dan rakaatku pada Allah bahwa semua akan baik-baik saja terjadi dalam hidup ku ini tetapi kenapa semua musibah selalu datang pada ku. Apakah ini cobaan bagi ku. Aku tidak tau Sandy. Mungkin kamu akan terkejut dengan semua ini. Apa iya kamu dari keluarga baik-baik akan menjalin hubungan dengan keluarga ku yang hancur ini.

Sandy menjawab, itu tidak masalah bagi ku annisa. Kan kamu sudah menceritakan semua.

Iya tidak masalah. Bagaimana dengan penyakit ku, ungkap Annisa.

Penyakit apa Annisa. Kamu tidak pernah bilang dan kamu sehat-sehat saja aku lihat. Ungkap Sandy.

Di luar aku sehat ceria dan kuat, namun di dalam semua telah hancur Sandy. Ungkap Annisa, air mata yang mulai mengalir di pipinya.

Sandy menjawab, iya kenapa Nisa ? ceritalah kamu sakit apa jangan menangis dulu. Sudah itu menangis, terlalu sering kamu menangis.

Baiklah aku akan memeberitahu mu. Aku mengindap penyakit kangker darah dan itu telah ku alami selama SMA sampai sekarang. Aku telah berobat, terapi kesana kemari namun apa aku tetap sakit. Penyakit lupus yang aku idap tidak dapat disembuhkan lagi Sandy. Aku bukan menolak mu. Tetapi aku tidak ingin kamu tersakiti dengan kepergian ku. Aku tak ingin kamu menangis karena aku, tetapi aku ingin kamu selalu tersenyum untuk ku. Jangan takut Sandy rasa sayang mu akan aku bawa mati dan sekarang belajarlah melupakan rasa ini dan belajarlah mencintai orang lain. Jika kamu bahagia aku juga akan bahagia.

Sandy menjawab, tidak. Apa orang tuamu sudah tau tentang semua ini Annisa ?

Annisa menjawab, tidak. Aku tidak mau menceritakannya karena semua sibuk. Kak Vani sangat berat hidupnya dan terluka, aku tidak mau cerita. Tetapi hanya kamu yang tau, aku, dokter dan sang pencipta.

Sandy menjawab, aku seakan tidak percaya akan semua ini.

Annisa menjawab, percaya tidak percaya kamu harus percaya bahwa aku akan pergi meninggalkan mu jadi lupakanlah aku. Sekarang aku mau pulang senja telah mulai akan berlalu meninggalkan langit memerah di pantai ini dan kegelapan akan datang Sandy.

Sandy menjawab, ya sudah. Mari kita pulang.

Kelam gelap sunyi itu dalam menghampiri, dingin tiupan angin menusuk ke jiwa gemetar raga terbawa hujan berdesir keras ke jantung. Hari sunyi diselimuti pemikiran hancurlah semua. Raga gemetar, mata kabur darah mendesir ke sana ke mari dalam tubuhku. Otakku seakan tak mampu lagi berfikir. Semua seakan hilang tubuh kuujung kejangkan aku pingsan.

Malam itu Annisa dilarikan ke rumah sakit oleh kak Vani, dari sanalah kak Vani baru tahu bahwa Annisa mengidap penyakit lupus. Kemudian baru datang orang tuanya. Annisa tidak sadarkan diri dua belas jam dari jam 8 malam hingga jam 8 pagi belum sadar. Mama dan papa Annisa ribut di rumah sakit, datang kak Vani berkata “Kalian hanya bisa ribut dan ribut juga, selalu sibuk, tidak pernah memikirkan kami. Kalian egois, kalian jahat”.

Mamanya berkata “Kenapa berkata seperti itu nak, kami kerja untuk kita”

Kak Vani menjawab “Kami tidak butuh uang mama dan papa, kami butuh kasih sayang dan kebahagiaan seperti dahulu waktu hidup kita sederhana. Bukan hidup seperti ini, apa gunanya banya uang tetapi kita tidak bahagia” Ungkap kak Vani dalam keadaan emosi dan menangis.

Orang tua Annisa terdiam dan mamanya menangis.

Aku hanya sebagai orang lain (asing) hanya teman Annisa. Aku hanya bisa diam melihatnya. Tepat jam 10 pagi Annisa sadar sebentar meminta maaf dan mengucapkan kata untuk selalu damai dan bahagia. Dia pergi untuk selamanya dengan iringan kalimat syahadat di bibirnya yang kering pucat itu, dengan tetesan air mata mengalir di pipinya. Dia meninggalkan aku untuk selamanya. Seakan-akan semua ini tidak benar namun apa, ini telah terjadi aku hanya bisa diam dan menelan air mata. Aku terpukul aku sangat kehilangan mu Annisa. Bawalah sayang ku selalu dan aku akan selalu menyayangi mu.

Padang, 11 Juli 2012

*) Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Kategori:Cerpen, KARYA SASTRA
  1. 11 Juni 2014 pukul 09.10

    Outstanding quest there. What occurred after?

    Take care!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: