Beranda > KARYA SASTRA, Puisi > Puisi Kopi Ansar Salihin

Puisi Kopi Ansar Salihin

Ansar Salihin

Ansar Salihin

Ansar Salihin. Mahasiswa Jurusan Seni Kriya ISI Padangpanjang. Anak dari Alimin dan Nurhayati ini lahir di Negeri Berselimut Kabut Desa Buntul Kepies, Bener Meriah, 11 Juni 1991. Aktif di Komunitas Seni Kuflet dan Staf Redaksi di Jurnal Seni Online Kuflet. Aktif menulis Puisi, Cerpen, Esai, Artikel, dan Berita. Tulisannya pernah dimuat di koran Post Metro Padang, Koran Rakyat Sumbar, Korandigital.com, Lintasgayo.com, dan Padangmedia.com. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi PASA Tiga Bahasa (Gayo, Indonesia, Inggris) The Gayo Institut (TGI) Takengon 2012. Karya Ilmiahnya sebagai terbaik pertama tingkat mahasiswa isi padangpanjang 2012. Pernah mementaskan Didong dan Saman, teaterikal puisi disejumlah tempat. Ia dapat dihubungi di Email: winansar@ymail.com.


Setetes Kopi

Tak mampu rasanya mencicipi setetes kopi pahit
di malam sunyi. Terkenang memetik hamparan bukit
berkalung embun menetes di daun-daun tak berputik.

Tak mampu menikmati setetes kopi pahit
teringat tetesan keringat ayah bunda memetik rindu
terbentang, berbaris-baris di tepi jalan
secangkir kopi tak mampu menemani gelisah dalam sunyi.

Tak mampu menikmati setetes kopi pahit
mengantarkan anakmu ke tanah rantau
terbayang di meja belajar dengan tetesan air mata
ketika bermain, bercanda memetik kopi.

Padangapanjang, 15 Oktober 2012

Nasib Petani

Jalan selangkah tuangkan desak dalam gelisah
terbentang hamparan hijau bertebing mentari
meski jauh tetap teringat takengon
secangkir untuk diri sendiri
hasil berlimpah entah siapa menikmati
aku khawatir pada petani dimiskinkan
dengan hianat penguasa kopi
aku khawatir pada segelas kopi untuk sendiri juga terbenam

Padangpanjang, 14 Oktober 2012

Rindu

Secangkir kopi menemani malam
terkenang di pondok-pondok kecil memanggil jiwa hampa
tak lupa pada ayah bunda memetik kenang
selimut kabut berpayung hujan
mengikat di titik embun gigilkan pagi.

Padangpanjang, 13 Oktober 2012

Secangkir Air Hitam

Suatu nikmat diberikan pada petani
hamparan luas di bukit-bukit dan lembah
bunga putih tak mekar menunggu rezeki
buah merah rahmat tuhan
persembahkan secangkir air hitam pahit menyekat jiwa
memeluk tubuh sunyi dalam gelisah
kopi aku rindu ketika embun pagi menetes di ujung ilalang

Padangpanjang, 12 Oktober 2012

Karya puisi Ansar Salihin di atas dinyatakan lulus seleksi tahap pertama dari sejumlah karya yang dikirim, dan berhak menjadi nominator karya yang akan dimuat dalam Buku Antologi Puisi “Secangkir Kopi” terbitan oleh The Gayo Institute (TGI) dengan kurator Fikar W Eda dan Salman Yoga S.
Sumber: Lintasgayo.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: