Beranda > ARTIKEL > Didong Kolaborasi Komunitas Seni Kuflet

Didong Kolaborasi Komunitas Seni Kuflet

Pertunjukan Didong Kolaborasi Kuflet

Pertunjukan Didong Kolaborasi Kuflet

Oleh Ansar Salihin *)

Didong Kolaborasi Rapa’i, Seurune Kalee dan baca puisi Sulaiman Juned tampil dalam acara satu tahun Orkes Keroncong (OK) La Paloma Jurusan Musik ISI Padangpanjang. Acara tersebut berlangsung di Gedung Teater Arena Mursal Esten ISI Padangpanjang, 20 Mei 2013. Pertunjukan Didong Kolaborasi dimainkan anggota Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang.

Didong adalah kesenian tradisional Gayo, Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kesenian yang diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et ini berasal dari dua akar kata, yaitu din dan dong. Din dari bahasa Arab yang artinya agama dan dong dari bahasa Gayo yang artinya dakwah. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa istilah Didong murni berasal dari bahasa Gayo, yaitu denang atau donang yang artinya gendang.

Didong Kolaborasi Kuflet merupakan salah satu seni pertunjukan berangkat dari kesenian tradisi daerah Gayo kemudian dikolaborasikan dengan alat musik lainnya yang berasal dari Aceh seperti Rapa’i dan Serune Kalee. Kelompok seni pertunjukan tersebut dibimbing oleh Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang.

Pertunjukan Didong Kolaborasi merupakan salah satu pengembangan kesenian tradisi menuju kepada kesenian modern. Tujuan kolaborasi bukanlah menghilang tradisi sepenuhnya, namun adanya penambahan-penambahan baru terhadap kesenian tradisi agar pertunjukan tersebut tidak monoton. Walaupun dalam pertunjukan Didong Kolaborasi menambah musik Seurune Kalee dan Rapa’i, akan tetapi nada atau ketukan masih mengikuti ketukan Didong. Begitu juga dengan nilai tradisi, tidak menghilang nilai budaya dan tradisi Didong itu sendiri.

Rapa’i adalah alat musik tetabuhan tradisional menyerupai rebana yang tumbuh dan berkembang sejalan penyebaran agama Islam di Aceh yang keberadaannya telah ada sejak zaman kerajaan Samudra Pasai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan. Fungsi dalam pertunjukan Didong adalah memperkuat bunyi saat musik bernada tinggi dan memberi kesan lembut saat nada musik rendah.

Sedang Seurune Kalee meruapakan alat musik tiup tradisional yang berasal dari Aceh juga. Keberadaannya hampir sama dengan Rapa’i, bahkan Rapa’i sering dimainkan bersama Seurune Kalee dalam sebuah pertunjukan. Fungsi Seurune Kalee dalam pertunjukan Didong Kolaborasi adalah menimbulkan kesan merdu saat nada musik rendah dan memperkuat nada musik saat nadanya tinggi. Selain itu juga Serune Kalee berfungsi sebagai pengiring musik saat pembacaan puisi.

Seni Pertunjukan merupakan penampilan kesenian satu kesatuan yang utuh, tersistematis dan tidak terpisahkan antara satu unsur dengan unsur yang lainnya. Unsur seni pertunjukan diantaranya artistik panggung, pencahayaan, pemain, alat pendukung, dan pertunjukan yang dipersembahkan. Dalam Pertunjukan Didong Kolaborasi unsur tersebut telah terpenuhi, adanya artistik panggung, cahaya, pemain, alat pendukung dan didong yang ditampilkan. Semua unsur tersebut saling terkait dan mendukung satu sama lain dalam sebuah seni pertunjukan.

Lagu yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut berjudul “Laut Tawar” merupakan penggambaran keadaan alam di Gayo Khusunya di Aceh tengah dan kerinduan terhdap kampung halaman. Pengambaran tersebut seolah-olah diceritakan oleh seseorang yag berada di perantauan, atas dasar kerinduan ke kampung halaman. Begitulah filosofi masyarakat Gayo itu sendiri, kemanapun ia pergi kampung halaman tidak pernah terlupakan, meskipun dari jauh budaya dan tradisi tetap dipilihara.

Kemudian Sulaimana Juned membaca puisi berjul “Tanah Gayo” berisi tentang gambaran alam Gayo, Kehidupan masyarakat Gayo dan kerinduan dari rantau terhadap kampung halaman. Berikut Puisinya:

Kemudian Sulaimana Juned membaca puisi berjul “Tanah Gayo” berisi tentang gambaran alam Gayo, Kehidupan masyarakat Gayo dan kerinduan dari rantau terhadap kampung halaman. Berikut Puisinya:

Dari rantau
Terkenan laut tawar jadi
Kenangan. Petri pukes membatu, buktu
Cinta seorang hamba. Depik tempat berkecipak
Bensu peteri menunggu Malem Dewa di bntul kubu gubuk Makni tua. Dari sudut
Yang paling sunyi dalam sepi gelap
Mata. Angin nelusup menoreh
Luka-kabut nanar mata
… Berpuluh rencong berhulu di dada.

Dari rantau
Gigil menggeretakkan rahang
rindu demamkan jiwa. Di sudut
Yang paling sunyi kabulkan doa hamba
Menyalin kata menyampaikan kebenaran
Hakiki-maaf terbuka selebar langit
Bagi siapapun yang pernah memberikan getir
Ah!
-Padangpanjang, 2011-

Pemain Didong Kolaborasi diantaranya Iwan Rahmat (Ceh 1), Awaluddin Ishak (Ceh 2), Awaludin (Tingkah), Alamsyah Putra, Khairunnas, Rahmat, Hermansyah (Tepuk Bantal), Munzir (Pemain Rapa’i) dan Fadlon (Pemain Serune Kalee).

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padangpanjang

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: