Beranda > ARTIKEL > Goa Putri Pukes Sebagai Objek Wisata

Goa Putri Pukes Sebagai Objek Wisata

Goa Putri Pukes

Goa Putri Pukes

Oleh Ansar Salihin

PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk individu sejak lahir kedunia ini telah memiliki nilai keindahan di dalam dirinya (animal estetikum). Dengan adanya nilai keindahan tersebut sehingga manusia selalu berkeinginan memandang dan merasakan keindahan yang dapat memberikan ketengan dan kesenangan dalam hidupnya. Salah satu keindahan yang dapat pandang dan dirasakan oleh manusia adalah keindahan alam. Manusia juga memiliki sifat kejenuhan apabila yang pandangnya hanya alam disekitarnya, sehingga manusia membutuhkan suatu perjalanan ke tempat lain untuk memandang dan merasakan lingkungan dan alam yang berbeda.

Perjalanan yang dilakukan oleh manusia ke daerah lain atau sering disebut wisatawan (Tourist), selain memenuhi kebutuahannya sebagai refreshing (ketenagan dan kesenangan) juga memiliki tujuan yang lain. Menurut Oka A Yoety (1983: 5) Adapun alasan manusia melakukan suatu perjalanan (Tour) antara lain kesehatan, kesenangan, pendidikan, agama, kebudayaan, hobi, olahraga, konperensi, seminar dan alasan lainnya.

Berdasarkan pendapat di atas, tujuan wisatawan mengunjungi sebuah tempat pariwisata merupakan suatu kebutuhan manusia lahir dan batin yang harus dipenuhi. Untuk memenuhi salah satu kebutuhan tersebut manusia harus melakukan perjalanan ke suatu tempat, baik tempat yang keadaan alamnya yang indah atau tempat bersejarah maupun tempat-tempat religius kegiatan keagamaan dan objek wisata lainnya tergantung kepada alasan berwisata dan tempat wisata yang dituju.

Di Indonesia tempat pariwisata sangat banyak, baik wisata alam, wisata budaya, wisata relegius, wisata bersejarah, wisata cerita rakyat atau mitos, wisata peninggalan purbakala dan tempat liannya yang dapat dijadikan sebagai tempat pariwisata. Salah satu di daerah Aceh Tengah objek wisata alam juga objek bersejarah dan objek wisata budaya adalah Goa Putri Pukes.

Loyang Putri Pukes (Gua Putri Pukes) adalah salah tempat wisata berada di pinggiran Danau Laut Tawar desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Tempat ini merupakan sebuah goa yang di dalamnya ada patung seorang putri yang menjadi batu. Selain patung manusia di dalam goa terdapat benda yang lainnya seperti kendi, sumur, alat pemotong dan tempat duduk (Danurfan: 2013).

Goa Putri Pukes merupakan tempat yang bersejarah bagi masyarakat Aceh Tengah, karena sejarahnya memiliki pesan moral dalam kehidupan manusia. Bukti tertulis dan sumber kusus tidak ada tentang sejarah tersebut, sejarahnya hanya berdasarkan cerita masyarakat setempat. Sehingga tempat pariwisata ini lebih tepatnya disebut sebagai legenda atau cerita rakyat.

Putri Pukes merupakan sebuah legenda yang mengisahkan tentang seorang putri raja yang menjadi batu gara-gara tidak mengindahkan pesan orangtuanya. Kisah tersebut kebenarannya masih diragukan, namun ceritanya dapat memberikan pencerahan kepada manusia. Dengan adanya wisatawan melihat Putri Pukes dan mendengarkan cerita perjalanan hidupnya mengingatkan kepada manusia, betapa pentingnya menjalankan perintah orang tua. Sehingga objek wisata ini dapat memberikan pendidikan dan pesan moral kepada pengunjung yang datang ke sana

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Goa Putri Pukes

Dataran Tinggi Tanah Gayo Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang terdapat wilayah nusantara. Daerah tersebut terletak di tengah-tengah provinsi Aceh, memiki iklim dingin dan tanah yang subur karena curah hujan yang tinggi. Selain itu juga daerah tersebut memiliki beberapa tempat wisata alam yang sangat indah, wisata budaya dan wisata bersejarah. Salah satunya Danau Laut Tawar selain alamnya indah dan sejuk, di sekeliling juga memiliki tempat-tempat bersejarah dan legenda.

Setiap daerah di nusantara memiliki legenda atau cerita rakyat yang memiliki bukti pisik berupa patung batu dan bukti fisik yang lainnya yang dapat dijadikan tempat wisata. Begitu juga halnya dengan wilayah Aceh tengah ada beberapa tempat yang dijadikan sebagai wisata yang asalnya dari cerita rakyat dan memiliki sifat fisik secara nyata, namun tidak memiliki bukti tertulis dan sumber yang jelas. Tempat tersebut seperti legenda Goa Putri Pukes, Goa loyang Koro (Lobang Kerbau), Goa Mandele, Atu Belah (Batu Terbelah), dan beberapa tempat lainnya. Tempat tersebut seperti Goa Putri pukes menurut masyarakat setempat memiliki sejarah atau cerita tersendiri dan pesan moral yang disampaikan dalam sejarahnya.

1. Sejarah Asal Usul Putri Pukes

Putri Pukes merupakan nama seorang gadis kesayangan dan anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga di sebuah kerajaan kecil. Suatu hari putri tersebut menyukai seorang pangeran dari kerajaan lain. Awalnya, kedua orangtuanya tidak merestui karena negeri tempat tinggal pangeran itu jauh. Namun, karena kegigihan Putri Pukes dan Pangeran, orangtua putri pun merestui dan menikahkan mereka. Pernikahan pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat. Mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria.

Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai diantar menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai wanita diantar yang dalam bahasa gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak pria ke Samar Kilang. Pada acara ‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem ‘juelen’, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat orang tuanya. Berbeda dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan dengan suami. Sementara sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’, pada sistem perkawinan ini, pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama keluarga pihak wanita, disebabkan pihak wanita yang mengadakan lamaran terlebih dahulu. (Marina Asril Reza, 2010: 10).

Pernikahan ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria sebelumnya meminta atau mengemis kepada wali mempelai wanita untuk dinikahkan dengan putrinya, dengan alasan sangat mencintainya. Sehingga sebagai persyaratannya, pihak pria harus tinggal bersama keluarga mempelai wanita. Disinilah detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes terkenal hingga sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai pria. “Nak… sebelum kamu melewati daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa sekarang menjadi Danau Laut Tawar. Kamu jangan penah melihat ke belakang,” kata ibu Putri Pukes. . (Marina Asril Reza, 2010: 10)

Dijalasakan oleh Danurfan (2013 ) Sang putri berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat putri lupa dengan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara tak sengaja putri menoleh ke belakang, Tiba-tiba, datanglah petir menyambar dan hujan yang sangat lebat. Putri Pukes dan rombongannya segera berteduh di dalam sebuah goa.

Menurut Suherman Amin (2009) Putri Pukes di dalam goa, berdiri di sudut untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Perlahan-lahan, tubuh Putri Pukes mengeras. Menurut cerita masyarakat setempat Putri Pukes sangat terkejut dan menangis. Ternyata, tubuhnya berubah menjadi batu. Putri Pukes menyesal, karena tidak mengindahkan pesan orangtunya. Seharusnya, ia tidak menoleh ke belakang selama dalam perjalanan. Setelah mereasa cukup lama beristirahat dan hujan mulai reda, mereka berniat melanjutkan perjalanan. Para pengawal memanggil Putri Pukes, Berkali-lkali pengawqalnya memanggil, tetapi tetap tidak terdengar jawaban. Para pengawal pun menghampiri tempat Putri Pukes berdiri. Mereka terus memanggil, tetapi Putri Pukes hanya diam. Saat dilihat dengan jelas, para pengawal sangat terkejut melihat tubuh Putri Pukes telah mengeras dan menjadi batu. Sampai sekarang, batu Putri Pukes masih bisa dilihat. Bentuknya membesar di bagian bawah, tetap bentuk sanggul dan kepala Putri masih bisa dikenali.

Di dalam gua, selain melihat batu seorang putri, masih ada benda lain yang dapat dilihat. Beberapa benda tersebut diantaranya sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu, alat pemotong zaman dahulu. Air sumur tersebut kata penjaga Goa tersebut dapat dijadikan sebagai obat berbagai macam penyakit, sumur ini tiga bulan sekali ada air (Danurfan, 2013).

Menurut masyarakat Gayo di Aceh Tengah, benar ada atau tidaknya cerita ini tidak menjadi masalah yang sangat penting. Cerita Putri Pukes telah menjadi cerita turun terumurun sampai sekarang. Yang paling terpenting di sini adalah nilai etika berupa pesan moral yang disampaikan dalam cerita tersebut. Cerita putri pukes, menyadarkan manusia dalam kehidupannya. Menjalankan perintah orang tua merupakan salah satu kewajiban manusia sebagai insan. Nilai itulah yang disampaikan dalam cerita tersebut sejak dahulu sampai sekarang.

Selain itu cerita Putri Pukes bukan hanya memberikan nasehat tentang menjalankan perintah orang tua. Akan tetapi ada nilai lain yang ingin disampaikan berupa nilai adat istiadat di daerah tersebut. Berdasarkan asal usul putri pukes di atas, legenda ini bercerita tentang adat perkawinan. Kemudian sistem perkawinannya Juelen (pihak istri tinggal di rumah suami). Kemudian mahar yang dibayar oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan sangat mahal.

Menurut masyarakat setempat menjeleskan bahwa pada zaman dahulu pernikahan Putri Pukes lantaran jauh dengan tempat tinggalnya dan pihak laki-laki juga meminta sistem perkawinannya juelen. Sehingga keluarga dari Putri Pukes meminta mahar sebanyak 20 kerbau ditambah kebun dan perhiasan lainnya. Dengan syarat apabila Putri Pukes telah dibawa ke tempat laki-laki, apabila tidak diijinkan oleh suaminya untuk pulang maka putri pukes tidak boleh pulang. Perjanjian itu akhirnya manjadi kutukkan karena tidak diijinkan oleh yang maha kuasa.

Itulah pelajaran yang dapat diambil dari cerita Putri Pukes, bahwa suatu perkawinan bukanlah memutuskan silaturrahmi. Namun mempereart silaturrahmi antara kedua keluarga. Kemudian anak gadis bukanlah barang yang diperjualbelikan dan maharnya sangat mahal. Dengan adanya kisah tersebut menyadarkan masyarakat setempat. Sehingga mahar perkawinan pada saat sekarang hanya sewajarnya berdasarkan peraturan agama Islam.

2. Letak Geografis Goa Putri Pukes

Wilayah Kabupaten Aceh Tengah dengan Ibukotanya “Takengon” memiliki luas wilayah mencapai 4.318,39 km yang terbagi menjadi 14 Kecamatan dan 2 desa. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireun di sebelah utara, Kabupaten Gayo Lues di sebelah selatan, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Pidie dan Kabupaten Nagan Raya di sebelah barat serta Kabupaten Aceh Timur di sebelah Timur (Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh tengah, 2013).

Gao Putri Pukes merupakan salah satu tempat pariwitasa yang terletak di daerah Aceh Tengah. Tempatnya berada di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan. Goa ini berada di pinggiran Danau Laut Tawar, jaraknya dari pusat kota sekitar 10-15 menit perjalalanan atau 6 KM dari pusat Kota (Danurfan, 2013).

Tempat tersebut pada zaman kerajaan terletak di kampung Nosar. Menurut Mukhlis dalam Kasim (1980: 46) Kampung Nosar merupakan pusat kerajaan Syiah Utama. Kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan kecil dari beberapa kerajaan lainnya. Kerajaan Syiah Utama masih memiliki pusat kerajaan besarnya yang terletak di Buntul Linge yang bernama Kerajaan Linge.

Kampung Nosar pada awal terbentuknya kabupaten Aceh Tengah masuk ke wilayah Kecamatan Bintang. Nosar merupakan kampung yang wilayahnya sangat luas, ketika dipecahkan menjadi beberapa desa kecil sehingga Goa Putri Pukes masuk ke wilayah kampung Mendale. Kemudian setelah adanya pemekaran kecamatan, daerah Goa Putri Pukes masuk ke wilayah kecamatan Kebayakan.

Gao Putri Pukes terletak di pinggir jalan raya, sehingga wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut mudah untuk mendapatkannya. Selain itu juga jalan menuju tempat tersebut mudah dilalui oleh transportasi apapun, baik roda dua maupun roda empat serta bus pariwisata. Kemudian untuk masuk ke dalam Goa juga dipandu oleh penjaga goa tersebut

B. Goa Putri Pukes Sebagai Objek Wisata

Pada hakikatnya berpariwisata adalah suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya (Suwantoro, 1997: 3). Sedangkan menurut Mathiesen dan Wall, 1982 (dalam Chafid Fandeli, 1995: 36) bahwa wisata adalah kegiatan berpergian dari dan ke tempat tujuan lain di luar tempat tinggalnya.

Objek wisata adalah perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi (Chafid Fandeli, 1995: 58). Ada bebrapa jenis objek wisata yang menarik dikunjungi, dianataranya objek wisata alam, objek wisata budaya, objek wisata tempat bersejarah, objek wisata pendidikan dan objek wisata yang lainnya.

Dari beberapa objek wisata tersebut wisatwan mengunjungi tergantung tujuan dan kebutuhan perjalanannya. Apabila tujuannya untuk refresing wisatawan lebih banyak memilih berwisata ke objek wisata alam, sedangkan bagi wisatawan yang tujuannya untuk risert atau pendidikan biasanya mencari objek wisata yang bersejarah, objek wisata budaya, dan tempat pendidikan.

Goa Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata yang terdapat di Aceh tengah, secara fisiknya objek tersebut termasuk ke dalam objek wisata alam. Karena goa dan keadaan alam sekitarnya digolongkan kepada objek wisata alam. Kemudian kalau dikaji lagi secara mendalam tentang asal usul goa Putri Pukes sebagaimana telah dijelaskan pada pain sebelumnya, bahwa objek wisata tersebut memiliki nilai budaya dan nilau moral serta memiliki sejarah secara cerita rakyat. Untuk lebih jelasnya akan karakteristik kepariwisataan yang sesui dengan objek wisata Goa Putri Pukes.

Menurut Smith, 1989 (dalam Wagito, 1995: 16) membagi kerangka tipe kepariwisataan dan intraksinya sebagai suatu dasar pijak adalah dua tipe pembagiannya yaitu wisata alam dan wisata budaya

Dari Skema diatas dijelaskan,bahwa pada dasarnya objek wisata itu hanya ada dua, yaitu wisata alam dan wisata budaya. Dari kedua penggabungan objek wisata tersebut dapat diuraikan menjadi beberapa onjek wisata lainnya seperti ekowisata (Objek wisata alam susah untuk dijangkau/petualangan), wisata etnik (wisata etnik atau suku di suatu daerah) dan wisata sejarah atau historis (tempat-tempat peninggalan bersejarah)

1. Objek Wisata Alam

Objek wisata alam adalah objek wisata yang daya tariknya bersumber pada keindahan sumber daya alam dan tata lingkungannya. Yang termasuk dalam wisata alam adalah pantai, danau, air terjun, goa, hutan lindung, sungai dan tempat lainnya (Chafid Fandeli, 1995: 58).

Berdasarkan pendapat di atas wisata alam merupakan objek wisata yang berhubungan dengan keindahan alam yang telah ada kemudian dikelola dengan baik sehingga menjadi tempat pariwisata. Goa Putri Pukes adalah salah satu goa yang ditata oleh masyarakat setempat, sehingga tempat tersebut menjadi objek wisata. Selain bentuk goanya yang indah isi di dalam goa juga menjadi daya tarik wisatawan mengunjunginya.

2. Objek Wisata Budaya

Selain keindahan alam yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu tempat adalah kebudayaan suatu daerah. Menurut Oka A Yoety (1982: 5) Pariwisata dapat pula membuat seseorang menjadi tertarik pada hasil sutu kebudayaan dana tata cara hidup sutau masyarakat dan dapat mendorong pada suatu pengertian, mengapa suatu masyarakat tertentu berbeda dengan masyarakat lain.

Yang termasuk ke dalam objek wisata budaya adalah hal-hal yang berhubungan dengan unrus budaya itu sendiri. Diantaranya kesenian daerah, tradisi, benda-benda peninggalan suatu daerah, tempat-tempat yang bersejarah yang berhubungan dengan budaya daerahnya, hasil karya seni, tempat religi, adat istiadat suatu daerah dan unsur lainnya yang berhubungan dengan kebudayaan.

Gao Putri Pukes meurut cerita rakyat setempat sebagaimana telah dijelaskan bab sebelumnya, bahwa goa dan patung yang ada di dalamnya sangat berarti dalam budaya Gayo. Karena kisah tersebut secara tidak langsung telah menguraikan adat perkawinan di daerah Gayo. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Goa Putri Pukes mendapat pengetahuan tentang nilai budaya di tempat tersebut. Hal tersebut merupakan salah satu tujuan wisatawan untuk mengunjungi objek wisata budaya.

Secara historis memang Goa Putri Pukes tidak memiliki bukti yang kaut (secara tertulis), sampai saat sekarang ini kisah tentang putri pukes menjadi batu hanya berdasarkan cerita rakyat secara turun-temurun. Kemudian di sekitar goa baik di dalam maupun diluar tidak tulisan-tulisan yang menandakan kisah tersebut benar-benar terjadi. Namun bukti tersebut belum memenuhi kreteria sebuah sejarah. Sehingga kisah Putri Pukes digolongkan kepada legenda atau cerita rakyat. Bagi masayarakat setempat yang terpenting adalah hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut bukan benar adanya atau tidak.

C. Sarana dan Prsarana Penunjang Objek Wisata Goa Putri Pukes

Setiap objek atau lokasi pariwisata sebetulnya ada berbagai unsur yang saling tergantung. Unsur-unsur ini semuanya dieprlukan agar para wisatawan dapat menikmati suatu pengalaman yang memuaskan liburan mereka. Menurut James J. Spillane (1994: 63) Suatu objek wisata harus memiliki lima unsur berikut sebagai penunjang kenyamanan dan kesenangan wisatawan. Unsur tersebut diantaranya Attaraktion (pusat objek wisata), Facilites (Fasilitas), Infrastucture (infrastruktur), Transportation (jasa angkutan), Hospitality (Sosial masyarakat setempat).

1. Attaraktion

Attaraktion merupakan pusat dari industri pariwisata. Menurut pengertiannya, attaraktion mampu menarik wisatawan yang ingin mengunjunginya. Suatu tempat tujuan primer adalah tempat atau lokasi yang sangat menarik perhatian wisatawan dan merupakan objek pokok dari perjalanan mereka (James J. Spillane, 1994: 63-64).

Pusat objek wisata Goa putri pukes telah dijelaskan pada poin sebelumnya yaitu objek wisata alam dan objek wisata budaya. Yang membuat wisatawan menarik mengunjungi tempat tersebut adalah pertama karena keadaan alamnya indah dan menarik. Kemudian kedua karena adanya kisah yang menceritakan tentang goa dan isi yang ada di dalamnya. Sehingga wisatawan yang telah menbaca atau mendengarkan cerita tersebut mempunyai keinginan mengunjunginya.

2. Fasilitas

Fasiltas penunjang merupakan salah satu membuat wisatawan nyaman di tempat wisata tersebut. fasilitas pendukung tersebut dalam objek wisata yang dibutuhkan oleh wisatwan adalah penginapan, rumah makan, kesehatan, tempat isrirahat, tempat beribadah dan fasilitas pendukung lainnya.

Di sekitar Goa Putri Pukes tidak ada penginapan, karena biasanya wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut hanya mampir sebentar untuk melihat isi yang ada di dalam goa. Wisatawan yang menginap biasanya di tempat wisata lain yang berdekatan dengan Goa Putri Pukes atau nginap di daerah kota takengon, karena objek wisata ini tidak jauh dari kota Takengon. Alasan tidak penginapan di sekitar tempat ini karena tempatnya dilereng gunung dan sering terjadi longsor disekitar daerah ini.

Kemudian kalau penjualan makanan, tempat beribadah ada disekitar ini yang dipergunakan untuk wisatwan yang berkunjugn ke tempat ini. Wisatawan yang masuk ke dalam goa akan dipandu oleh penjaga goa, baik wisatawan asing maunpun wisatawan dalam negeri.

3. Infrastruktur

Infrastruktur adalah semua yang termasuk ke dalam kontruksi di bawah dan di atas tanah dari suatu wilayah atau daerah. Infrastruktur Goa putri pukes yang telah memenuhi syarat diantanya sistem pengairan baik, jaringan komunikasi seperti Handphon, aliran listrik memandai, sistem pembuangan kotoran dan pembuangan air lengkap, jalan raya mudah dilalui, dan sistem keamanannya dijaga oleh penjaga yang mengurus goa dan sekitarnya.

4. Transportasi

Jasa angkutan merupakan salah satu fasilitas yang sangat penting dalam pariwisata, karena wisatawan yang menunjungi tempat tersebut apalagi dari luar daerah atau lura negeri tidak mungkin membawa alat transportasi sendiri. Transportasi menuju Goa Putri Pukes adalah alat transportasi darat berupa bus angkutan dari kota takengon menuju dearah bintang. Kemudian untuk wisatwan yang rombongan yang berasal dari luar daerah atau luar negeri, pemerintah setempat menyediakan bus pariwisata untuk mengantarkan wisaatwan mengunjungi objek wisata yang ada di Aceh Tengah.

5. Hospitality

Hospitality adalah kebutuhan wisatawan yang sangat berhubungan dengan kehidupan masyarakat setempat. Hal ini lebih mengacu kepada keramah tamahan masyarakat setempat terhadap wisata yang datang, kemudian kenyamanan dari pencopet, tutur kata dari masyarakat setempat dan sopan santun penjaga serta pemandu wisata setempat. Di daerah Aceh Tengah pada umumnya masyarakatnya memilki ramah tamah terhdap tamu yang datang ke daerah mereka. Sehingga wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut merasa nyaman dan senagn bersosialisai dengan masyarakat setempat. Tentunya wisawtan harus menjaga sopan santun dan tata tertib yang ada di daerah tersebut.

D. Dampak Positif dan Negatif Wisata Goa Putri Pukes

Perkembangan dunia pariwisata dewasa ini semakin berkembang seiring dengan laju perekonomian di dunia. Bidang pariwisata dapat membentuk citra bangsa di negara lain, oleh karena itu pihak pemerintah dan pihak swasta bekerja sama untuk meningkatkan bidang pariwisata dalam hal produktivitas dan efesiensi dari tenaga kerja potensial di bidangnya Salah satu potensi yang dimiliki oleh negara adalah di bidang kepariwisataan, Indonesia kaya akan wisata alam dan budaya jika ini dikembangkan dan dimanfaatkan secara benar akan menjadi andalan atau sumber penerimaan devisa khususnya. Tentunya semakin berkebangnya pariwisata pasti memiliki kerugian dan keuntungan baik untuk pemerintah, masyarakat setempat dan wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut.

1. Dampak Positif

Setiap objek wisata memiliki keuntungan atau dampak yang baik dalam prekonomian daearah dan masayarakat. Selain itu juga dengan adanya objek wisata seperti Goa Putri Pukes akan memajukan dan terkenal suatu daerah. Karena objek wisata merupakan salah satu media mempromosikan daerah kepada daerah yang alinnya. Secara umum dampak positif ini adalah sesuatu yang dapat menguntungkan untuk semua kalangan.

Bagi pemerintah setempat keuntungan dari objek wisata adalah menambah devisa dan prekonomian daerah. Karena salah satu tujuan pengembvangan kepariwisataan adalah untuk menambah devisa negara. Selain itu juga daerah tersebut akan di kenal oleh orang banyak diluar daerah ataupun luar negeri.

Kemudian untuk masyarakat setempat keuntaungannya adalah memperbaiki prekonomian rakyat. Dengan adanya di daerah tersebut objek wisata masayakat setempat dapat melaksanakan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya serta bermanfaat bagi wisatawan yang berkunjung. Aktivtas tersebut sepeti berjualan, menjadi penjaga atau pengurus tempat wisata tersebut.

Sedangkan bagi wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut keuntungannya sesuai dengan tujuan awalnya untuk berwisata yaitu refresing, liburan dan kesenagan. Selain itu juga wisatwan akan memperoleh ilmu pengetahuan yang baru dari objek wisata yang dikunjungi. Apalagi objek wisata tersebut berupa produk budaya atau peninggalan sejarah.

2. Dampak Negatif

Objek wisata selain memiliki keuntungan, juga memiliki efek negatif yang dapat merugikan berbagai pihak. Dampak negatif tersebut baik muncul dari pemngunjung, masyarakat setempat maupun pengelola wisata. Efek negatif untuk objek itu sendiri berupa terjadinya kerusakan terhadap benda-benda berharga yang ada di dalam Goa karena ulah tangan pengunjung. Selain itu juga terjadi pencemaran lingkungan karena banyaknya wisatwan yang datang dan semakin banyak juga sampah berserakan. Apabila penjaga wisata setempat tidak membersihakn maka akan terjado polusi dan merusak keindahan lingkungan. Kemudian bagi pengunjunng juga harus adanya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

KESIMPULAN

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersenang-senang, liburan dan refresing dan menenagkan diri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut seseorang melakukan suatu perjalanan ke suatu tempat (pariwisata). Tempat tersebut baik berupa keadaan objek wisata alam, maupun objek wisata budaya dan historis.

Goa Putri Pukes adalah salah satu objek wisata di kabupaten Aceh Tengah. Kisah ini menjadi legenda di antara mayarakat sekitar. Benar atau tidak legenda Putri Pukes, sampai sekarang tidak ada yang tahu. Goa Putri Pukes kini telah menjadi Tempat Wisata. Di dalam gua ada batu yang diyakini sebagai Putri Pukes, ada kendi & memiliki kursi batu serta alat pemotong kuno yang terbuat dari batu.

Goa Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata yang tergolong kepada objek wisata alam. Karena keadaan alamnya indah dan menarik, selain Goa dan ada juga manusia menjadi batu di dalmnya. Selain wisata alam Goa Putri Pukes juga sebagai objek wisata budaya, karena memiliki nilai budaya dan adat istiadat dalam kisahnya. Sehingga wisatwan yang berkunjung selain menikmati keidahan alamnya, juga mendapatkan pengetahuan dan nilai moral yang terkadung dalam kisahnya.

Objek wisata ini sangat mudah dikunjungi karena letaknya tidak terjalu jauh dari pusat kota Takengon Aceh Tengah. Kemudian jalan menuju ketempat tersebut juga mudah di lalui transportasi. Salian itu juga fasilitas, sarana dan prasarana di penunjang wisata Gao Putri Pukes juga memadai. Untuk tetap menjaga keindahan dan menambah prekonomian masyarakat setempat, semua pihak seharusnya mampu menjaga dan mengembangkan objek wisata ini.

DAFTAR PUSTAKA

Fandeli, Chafid dan Wagito. 1995, Dasar-Dasar Manajemen Kepariwisataan Alam, Liberty: Yogyakarta.
Reza, Marina Asril. 2010, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara, Visimedia: Jakarta.
Saleh, Kasim. M 1980, Seni Rupa Aceh I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerha Istimewa Aceh: Banda Aceh.
Spillane, James J. 1994, Ekonomi Pariwisata Sejarah dan Prospeknya, Kanisius Anggota IKAPI: Yogyakarta.
______________. 1994, Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan Rekayasa Budaya, Kanisius Anggota IKAPI: Yogyakarta.
Suwantoro, Gamal. 1997, Dasar-Dasar Pariwisata, Andi: Yogyakarta
Yoety, A Oka. 1994, Komerisasi Seni Budaya dalam Pariwisata, Angkasa: Bandung.

Sumber Lain
Amin, Suherman. 2009, Putri Pukes Manusia Jadi Batu Akibat Menyepak Ibunya Ketika Salat, Acehnationalpost.com.htm (diakses 15 Mei 2013)
Danurfan: 2013, Kisah Tragis Putri Aceh Dikutuk Jadi Batu di Gua Pukes,Detik Travel.com (diakses 1 Juni 2013)
Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh tengah. 2013, Aceh Tengah. (diakses 3 Juni 2013)
Google.Earth.com (diakses 5 Juni 2013)

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padangpanjang-Sumatera Barat

**) Makalah ini di Presentasikan dalam matakuliah Kriya Wisata di ISI Padangpanjang

Kategori:ARTIKEL
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: