Beranda > SOSOK, Tokoh > Affandi Maestro Seni Lukis Indonesia

Affandi Maestro Seni Lukis Indonesia

Affandi

Affandi

Baharudin Affandi Kusuma lahir di Cirebon, Jawa Barat (1907) Wafat pada 23 Mei 1990, Pendidikan HIS, MULO, AMS, Kariernya sebagai Pengajar Seni Lukis di Akademi Seni Rupa Yogyakarta (ASRI). Pencapaian yang diraih diantaranya Piagam Anugrah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1969), Doctor Honoris Causa dari University of Singapore (1974), Dark Hammarsjoeld dari International Peace Price (Florence, Italy, 1997), Bintang Jasa Utama (1978), Julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune, Gelar Grand Maestro di Florence, Italia.

Pameran yang Diikutinya: Museum of Modern Art (Rio De Janeiro, Brazil, 1966), East West Center,(Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat 1988),Festival of Indonesia (Amerika Serikat, 1990-1992),Gate Foundation, (Amsterdam, Belanda, 1993),Singapore Art Museum (1994), Centre for Stategic and International Studies (Jakarta, 1996),Indonesia Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo,1997) ASEAN Master Works,(Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1998-1999) Pameran keliling di berbagai kota di India, Pameran di Benua Eropa, Benua Amerika, Austalia

Affandi adalah salah satu putera dari pasangan Koesoema dan ibu Ladjem sebagai isteri kedua, lahir di Cirebon 1907, tanggal, hari dan bulannya tidak diketahui dengan persis. Mulai melukis sejak masa sekolah dan ditekuni dengan sungguh-sungguh mulai tahun 1934 dengan cara belajar sendiri. Pameran pertama kalinya dilakukan di Gedung Poetra di Jakarta tahun 1943 (poesat tenaga rakyat) yang dipimpin oleh empat serangkai : Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kiyai Haji Mas Mansyur. Antara tahun 1945-1947 ia aktif membuat poster perjuangan untuk membangkitkan perlawanan rakyat terhadap kaum kolonialisme Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

Pada periode tahun 1949-1951, ia mendapat grant dari pemerintah India dan tinggal di sana selama dua tahun sambil melukis serta mengadakan pameran keliling kota besar di India. Pada periode tahun 1951-1977, ia mengadakan pameran keliling di negara Eropa. Kemudian ditunjuk oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai wakil Indonesia dalam pameran Internasional di Brazili dan Venezia tahun 1954, ia memenangkan hadiah kemudian di San Paolo. Pada tahun 1957, ia mendapat grant dari pemerintah Amerika Serikat untuk mempelajari metode pendidikan seni serta tinggal di sana selama empat bulan, sempat pula mengadakan pameran tunggal di World House Gallery, New York, Amerika Serikat.image005

Pada tahun 1962, ia menjadi guru besar kehormatan dalam mata kuliah ilmu seni lukis di Ohio State University Columbia, Ohio, Amerika Serikat. Pada tahun 1969, ia menerima anugerah seni dan medali emas dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, kemudian diangkat menjadi anggota kehormatan untuk seumur hidup pada Akademi Jakarta. Pada tahun yang sama, ia dipilih selama masa tiga tahun menjadi ketua IAPA (International Art Plastic Association) untuk Indonesia, IAPA adalah badan international di bawah naungan UNESCO. Pada tahun 1973, ia ditunjuk oleh pemerintah Indonesia untuk mewakili dalam pameran Bienalle di Sydney, Australia.

Menerima gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dari University of Singapore pada tahun 1974, kemudian di tahun 1977, ia menerima hadiah perdamaian International dari Yayasan Dag Hammerskoeld serta menerima gelar Grand Maestro di Gedung San Marzano Florence, Italia. Kemudian ia diangkat menjadi anggota hak-hak azasi manusia dari Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castello San Marzano Florence, Italia. Sekembalinya dari sana, ia mendapat undangan dari Raja Arab Saudi sekalian naik haji bersama istrinya, Maryati.

Pada Agustus 1978, ia menerima penghargaan piagam tanda kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia, Soeharto, atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa Indonesia dalam suatu bidang atau peristiwa tertentu. Pada 1984 bulan September, mendapat undangan dari Konsul Jendral RI di Houston, Texas, Amerika Serikat, untuk pameran bersama pelukis besar Indonesia, S. Sudjojono, dan Basuki Abdullah.

Pada 1986, ia diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tahun 1987, ia mengadakan pameran tunggal pada ulang tahun yang ke-80 sekaligus merupakan peresmian penggunaan gedung pameran seni rupa milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang terletak di jalan Medan Merdeka Timur, Gambir Jakarta, yang kini menjadi Galeri Nasional.

Sejak itu kesehatannya mulai sering terganggu dan kehadirannya pada pembukaan pamerannya sudah menggunakan kursi roda karena tak mampu berjalan sendiri. Kendati demikian, semangatnya melukis tak kunjung surut. Ia mendemostrasikan cara melukis potret diri yang tenggelam di pusaran tujuh mata hari, karya itu dihadiahkan kepada Pemerintah RI melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diterima oleh Prof. Dr. Fuad Hassan.

Kemudian disusul mendapat penghargaan melalui Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) yang penyerahannya dilakukan di Istana Negara oleh Presiden Soeharto. Affandi saat itu menggunakan kursi roda karena kesehatannya semakin menurun saja. Peristiwa ini berlanjut dengan dibangunnya Museum Affandi, yang terletak di sisi kali Gajah Wong Yogyakarta dan sempat ditinjau oleh Presiden Soeharto bersama tamu negara dari Malaysia, Dr. Mahathir Mohammad. Koleksi yang dipamerkan dalam ulang tahunnya yang ke-80 terdapat sebuah karya dengan obyek seekor ayam jantan mati kerena korban sabungan, dengan dibubuhi tulisan yang berbunyi ‘1987, Mati’. Maka telah menimbulkan berbagai tafsiran dari pengunjung, kolektor serta pengamat seni rupa pada saat itu.

Menurut pengamatan paham sebagian orang jawa hingga saat ini, lukisan tersebut merupakan pertanda mati suri bagi si pembuatnya (pelukisnya). Makna seperti ini hanya dapat dimaklumi oleh kaum yang terbatas yaitu mereka yang mampu membaca simbol visual yang sangat sensitive. Mengikuti kenyataannya memang keadaan fisik Affandi terus menurun keluar masuk rumah sakit, berlarut berkepanjangan lebih dari satu tahun telah kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan siapapun. Bahkan bernafas maupun makan melalui alat bantu. Ooh……….. betapa dalam serta menghujamnya rasa duka bagi siapapun yang sempat berkunjung, bagaimana pula keluarga dekat serta anak isterinya yang setiap hari menunggu serta merawatnya tak tertanggungkan kiranya.***

Sumber: http://www.tamanismailmarzuki.co.id/tokoh/affandi.html

Kategori:SOSOK, Tokoh
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: