Beranda > ARTIKEL, BERITA, BUDAYA > Pidato Kesenian Sulaiman Juned pada Musda DKA

Pidato Kesenian Sulaiman Juned pada Musda DKA

Pidato Kesenian Sulaiman Juned pada Musda DKA

Pidato Kesenian Sulaiman Juned pada Musda DKA

Banda Aceh__Memperhatikan kondisi dan situasi kesenian Indonesia mengalami dilematika “Hidup Segan Mati Tak Mau”. Itulah yang disampaikan Seniman asal Aceh Sulaiman Juned, S.Sn.,M.Sn, dalam pidato kesenian pada acara Musda Dewan Kesenian Aceh (DKA) yang berlangsung di Hotel Sultan Banda Aceh, Sabtu 8/11/2014. Pidato yang berjudul “Dilematika Seni Tradisi di Indonesia” disampaikan di hadapan para seniman Aceh dan pengurus DKA Aceh serta Kabupaten/Kota.

Sulaiman Juned mantan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh (1998-2000) sekarang sedang menempuh pendidikan Doktoral Penciptaan Seni Teatar di Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Suarakarta. Melalui pidato singkatnya mengatakan “Seni tradisional di Indonesia terkurung dalam dilematika Hidup Segan Mati tak mau. Kesenian tradisional tak ubahnya seperti manusia yang telah memasuki masa uzur (tua), zaman keemasannya telah lewat. Di seluruh Indonesia para seniman seni tradisi selalu saja mengeluhkan tentang eksistensinnya yang kian pudar dalam kehidupan masyarakat” Ungkap pendiri/penasehat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang-Sumatera Barat.

Terkait eksistensi kesenian tradisi Indonesia, Sulaiman menegaskan bahwa kesenian tradisional memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas. Namun pakem itu bukanlah aturan ‘mati’ melainkan dapat dijadikan potensi yang dapat berkembang, berubah dan bercampur satu sama lainnya.

“Seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. Hal inilah yang dilakukan Dalang pelaku Wayang Kulit di pulau Jawa dan Bali dengan melakukan pemutakhiran kesenian tradisional dengan mengadopsi isu-isu aktual, melakukan perubahan sekaligus berdamai dengan dinamika zaman agar dapat bertahan hidup lebih lama. Pakem (teks) pertunjukan yang asli tetap dipertahankan, tetapi konteks juga mereka perhatikan dan pertimbangkan. Tidak alergi pada perubahan, namun menempatkan perubahan itu sebagai penggerak revitalisasi” Tambahnya.

Sulaiman Juned mengharapkan kepada seniman Aceh untuk menjaga kesenian tradisional dan menjadikannya sebagai akar penciptaan seni sesuai dengan perkembangan zaman. Semoga kesenian tradisional di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata, tetapi mampu menjadi media komunikasi sosial serta transformasi moral buat masyarakatnya.

Ansar Salihin

Berikut Link Pidato Kesenian Sulaiman Juned Selengkapnya Pidato Kesenian Sulaiman Juned pada Musda Dewan Kesenian Aceh

Kategori:ARTIKEL, BERITA, BUDAYA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: