Beranda > Tokoh > Pidato Orasi Ketua DKA: Kebudayaan kita, Kita yang Melestarikannya

Pidato Orasi Ketua DKA: Kebudayaan kita, Kita yang Melestarikannya

image

Ketua DKA Nurmaida Atmaja (Tengah) foto bersama penari Ranup Lampuan (Foto:winansar@)

Banda Aceh__Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Nurmaida Atmaja sampaikan Pidato Orasi Kebudayaan dalam acara Pagelaran Putroe Phang Art and Music Weekend Show 1 – 2015, di Taman Putroe Phang Banda Aceh, Sabtu 24/1/2015. Acara ini pertama kali digelar untuk tahun 2015 dan akan berlangsung setiap hari Sabtu dan Minggu sepanjang tahun 2015. Berbagai kesenian dipersembahkan untuk menhibur masyarakat yang sedang berlibur di Taman tersebut.

Pidato orasi kebudayaan yang di sampaikan Nurmaida terkait kondisi dan situasi kebudayaan Indonesia pada saat ini khususnya di Aceh. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) seharusnya tidak menghalangi masyarakat terus melestarikan kebudayaannya masing-masing. Namun kenyataannya kemajuan IPTEK mengakibatkan masyarakat alergi terhadap kebudayaan tradisi, ditambah lagi dengan pengaruh budaya luar masuk ke Indonesia tanpa ada penyaringan di masyarakat.

Nurmaida dalam kesempatan tersebut menyampaikan, kita sebagai manusia berbudaya sudah sepatutnya untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan kita masing-masing. Begitu juga sebagai masyarakat Aceh sangat kaya berbagai kebudayaan dan menjadi invetasi untuk generasi akan datang. Kalau bukan kita yang menjaganya siapa lagi, tidak mungkin orang dari luar Aceh melestarikan kebudayaan Aceh.

“Kebudayaan itu adalah salah satu ciri khas dan identitas masyarakat suatu tempat, baik itu berupa kesenian, makanan khas, pakaian, upacara adat dan kebudayaan lainnya. Salah satu cara untuk melestarikan dan menjaga kebudayaan kita sebagai orang Aceh adalah menggali kembali kebudayaan yang sudah ada, kemudian dianalisis, diajarkan dan ditanamkan nilai budaya tersebutk kepada generasi muda dan mengembangkannya di tengah-tengah masyarakat” Ungkap Nurmaida Ketua DKA juga penggiat seni tari dan sastra.

Nurmaida menambahkan “Salah satu produk budaya dalam bidang kesenian yang sudah diakui dunia Internasional melalui UNESSCO adalah Saman (Warisan budaya tak benda) berasal dari Dataran Tinggi Tanah Gayo Kabupaten Gayo Lues. Harapan kita kedepannya kesenian yang lain juga dapat diakui dunia internasonal seperti Seudati, Rapa’i, Ranup Lampuan, Didong, Ukiran Aceh, Kerawang dan seluruh produk budaya yang ada di Aceh” Tambah Nurmaida. Mengakhiri pidato orasinya ia sampaikan “Salam Budaya”.

Acara ini dibuka dengan Rapa’i Shalawat dan Tari Sema (Rumi) Majelis Zawiyah Nurun Nabi pimpinan Tengku Jamhuri Ramli, SQ, kemudian dilanjutkan dengan tari ranup lampuan, setelah itu persembahan pertunjukan musik Tampung Etnik (IPMA Padangpanjang), Rapa’i Geleng dari Yayasan Rumoh Yatim, dan ditutup kembali dengan Rapa’i Shalawat dan Tari Sema atau tarian sufi.

Win Ansar

Kategori:Tokoh
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: