Beranda > BERITA > Seminar Nasional Perjalanan Teater Modern Indonesia di Aceh

Seminar Nasional Perjalanan Teater Modern Indonesia di Aceh

20151007_130306-1Jantho__Program Studi (Prodi) Teater, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh menggelar Seminar Nasional tentang “Perjalanan Panjang Teater Modern Indonesia di Aceh”. Seminar ini diisi oleh narasumber teaterawan yang juga sebagai dosen teater ISI Padangpanjang, Sulaiman Juned, S.Sn,M.Sn, di gedung PKK Jantho, beberapa waktu lalu yang diikuti, guru, siswa, mahasiswa dan dosen ISBI Aceh.

Dikatakan, teater di Aceh mulai berkembang mulai tahun 1970. Perjalanannya, pernah mengalami masa keemasan dan kemudian juga pernah hilang lantaran konflik yang mendera Aceh beberapa tahun silam.

“Mulai tahun 1970 hingga 1997 teater di Aceh menuju masa keemasannya. Kemudian redup ketika konflik dan baru muncul lagi setelah damai. Perkembangan teater diawali oleh kelompok teater Kuala oleh Sujiman, Kardy Syaid, Maskirbi dan Junaidi Bantasyam. Kemudian, di era 90-an teater mencapai puncak kejayaan. Taman Budaya Aceh di bawah pimpinan Drs. Sujiman A. Musa, M.A, memprogramkan pertunjukan teater pilihan setiap bulan,” kenang Sulaiman Juned.

Kemudian tambah kandidat doktor penciptaan seni ISI Surakarta ini, muncul beberapa kelompok teater selain teater Kuala pimpinan Yun Casalona, juga muncul teater mata pimpinan Maskibri, teater Gita pimpinan Junaidi Batansyam, teater Bola pimpinan Junaidi Yacob, teater Mitra Kencana pimpinan Pungi Arianto Toweren, teater Kriya Artistika pimpinan Kostaman, sanggar Kuas pimpinan M.J. Seda, sanggar Gentama pimpinan Hery Erpian, Cempala Karya pimpinan Sulaiman Juned, teater Peduli pimpinan M. Nurgani Asyik, teater Alam pimpinan Din Saja, teater Kosong pimpinan T. Yanuarsyah.

“Selaian itu ada juga kelompok teater yang berdiri di kampus seperti teater Nya Unsyiah, sanggar Kasnaka Unsyiah, teater Bestek, Sanggar Kita Teater Nol, Teater Sua dan kelompok teater lainnya. Komunitas tersebut selalu aktif mengisi pertunjukan teater di Taman Budaya Aceh,” ujarnya.20151007_130242

Dilanjutkan, pasca konflik yang sempat membuat teater di Aceh mati suri, teater di Aceh sepi hingga tahun 2010 silam. “Kemudian akhir-akhir ini muncul sesekali pementasan teater kampus seperti di UKM teataer Nol Unsyiah, teater Rongsokan UIN Ar-Raniry, LaBsa USM, teater Home Gemasastrin Unsyiah. “Sementara teater independen tida ada lagi yang muncul ke permukaan,” kata Sulaiman Juned.

Dia berharap, dengan berdirinya ISBI Aceh dimana salah satu Prodinya adalah seni teater dapat membangkitkan kembali teater modern Indonesia di Aceh. ”Tidak hanya itu kampus ini juga akan menjadi pusat pengkajian seni-seni tradisi di Aceh. Walaupun masih terbilang masih muda, namun hendaknya harus mampu menjawab tantangan jaman terhadap kualitas intelektual seniman Aceh, bukan kuantitasnya. Sekaligus menjadikan Aceh tempat kajian seni yang Islami di dunia selain Turki,” harap pendiri ISBI Aceh ini.

WinAnsar@2015

Kategori:BERITA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: