KREATIVITAS SENIMAN BERLANDASKAN BUDAYA

ANSAR SALIHIN

Mahasiswa Jurusan Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang-Sumatera Barat

Abstrak: Kreativitas seniman dalam karya seni adalah kemampuan daya cipta mewujudkan karya seni yang belum pernah ada atau karya seni yang sudah ada dengan kreasi baru. Proses berfikir kreatif seniman merupakan proses melahirka ide-ide baru dalam karya seni. Ungkapan kreativitas seniman yang terus bekembang sesuai dengan perkembangan budaya. Budaya merupakan salah satu ide kreativitas dalam proses penciptakan karya seni. karya seni dalam konteks budaya akan mengkaji mengenai realitas sosial, tradisi, adat-istiadat, historis, religi, ekonomi dan sistem pemerintahan.
Kata Kunci: Kreatifitas, Seniman, Budaya, dan Karya Seni

Abstract: Artist creativity in art activities are the skill of creative power to menifest art activities came yet or the art activites with the new creation. The process thinking of the artist creativity is a process to produce the new ideas in art activities. Expression of the artist creativity which development agree with culture development. Culture is one of the creativity idea in the art activities characterise process. Art activity in culture context will examines about social reality, tradition, civilize, histori, religion, economy and goverment system.
Keywork: Kreativity, Artist, Culture, and art Work

PENDAHULUAN

Kesenian merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi nilai kesenian satu bangsa maka semakin tinggi nilai budaya yang terkandung didalamnya. Kesenian sebagai salah satu bagian penting dari kebudayaan tidak pernah lepas dari masyarakat, sebab kesenian merupakan sarana untuk mewujudkan segala bentuk ungkapan kreatifitas manusia.

Ensiklopedia Indonesia “seni merupakan penciptaan dari segala macam hal atau benda yang karena keindahan bentuknya senang orang melihat dan senang mendengarnya” (Soedarso Sp, 2006: 66).

Sedangkan menurut Soedarso Sp (dalam Mikkes Susanto, 2002:102) “Seni adalah karya manusia yang mengkomunikasikan pengalaman batin disajikan secara indah atau menarik hingga merangsang timbulnya pengalaman batin pula pada manusia lain yang menikmati”

Pendapat di atas menjelaskan bahwa seni adalah ungkapan batin manusia berupa ide/gagasan yang diwujudkan dalam sebuah karya. Bentuknya baik dalam wujud rupa, suara maupun wujud gerak. Seni juga suatu wujud benda yang memiliki nilai keindahan di dalamya baik penglihatan maupun pendengaran. Jadi, seorang seniman dalam melahirkan karya seni harus mampu melahirkan nilai keindahan dalam karyanya.

Ada dua pengertian seniman; seniman diartikan sebagai nama profesi seseorang dalam menciptakan atau menyusun karya seni. Seniman dapat juga diartikan sebagai manusia yang mengalami proses kreatifitas atau proses imajinasi, yaitu proses interaksi antara persepsi memori dan persepsi luar. Sedangkan persoalan pengkarya seni (seniman) adalah persoalan asas dalam konteks kreatifitas dan expresi seniman yang sering diperbincangkan ialah soal gaya karyanya pribadinya menjadi persoalan dalam penghasilan karyanya. Disamping itu perbincangan juga menyentuh mengenai zaman dan bermulanya karya seni yang dihasilkan (Iryan Syair, 2011: 8)

Seni sangat erat hubungannya dengan kreatifitas, dalam menciptakan suatu karya seniman dituntut memiliki kreatifitas agar karya yang dilahirkan berkualitas. Berkualitas adalah karya seni yang kreatif, inovatif dan tidak pernah diwujudkan sebelumnya dan dapat diterima oleh masyarakat. Kreatifitas merupakan kegiatan mental yang sangat individual, merupakan manifestasi kebiasaan manusia sebagai individu. Manusia yang kreatif adalah manusaia yang menghayati dan menjalankan kebebasan dirinya secara mutlak. Orang yang kreatif selalu dalam kondisi kacau, ricuh, kritis, gawat, mencari-cari, mencoba menemukan sesuatu yang pernah dari tanan budaya yang pernah dipelajarinya (Jakob Sumardjo, 2000: 80).

A.A.M Djelantik mengatakan
Kreativitas menyangkut penemuan sesuatu yang “seni” nya belum pernah terwujud sebelumnya. Apa yang dimaksud dengan “seni” nya tidak mudah di tangkap karena ini menyangkut sesuatu yang prensipil dan konseptual. Yang dimaksudkan bukanlah hanya “wujud” yang baru, tetapi adanya pembaharuan dalam konsep-konsep estetikanya sendiri, atau penemuan konsep yang baru sama sekali. (1999: 80).

Kreatifitas bertolak dari yang sudah ada, dari kebudayaan, tradisi. Secara dikotomis, kebudayaan merupakan sesuatu yang sudah tersedia, sudah ada sebelum individu kreatifitas. Kebudayaan sifatnya statis, tertutup, aman, imanen- manusia dapat hidup dan aman di dalamnya. Seseorang harus belajar, mengkondisikan daripada kebudayaan tempatnya dilahirkan dan hidup. Sementara itu kreativitas bersifat dinamis, terbuka, bebas, tidak biasa, penuh resiko (tidak aman dan nyaman) serta transeden (Jakob Sumardjo, 2000: 80).

Kebudayaan adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa dan rasa. Kata budaya berasal dari bahasa Sangsekerta yaitu budhayah-buddhi (budi/akal). Dalam bahasa Inggris culture, belanda cultur, bahasa latin colera (mengolah, mengerjakan, mengembangkan tanah). Menurut E.B. Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat-istiadat dan kemampuan yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Sedangkan Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan , milik diri manusia dengan belajar (M. Setia Elly, 2008).

Kreatifitas, seni serta kebudayaan saling berkaitan dan berhubungan. Walaupun kreativitas bertolak belakang dengan kebudayaan, dalam proses penciptaan karya seni kebudayaan dapat dijadikan sebagai ide/gagasan dalam berkreatifitas mewujudkan karya. Terutama seniman di kalangan akademis seperti mahasiswa jurusan seni, budaya dijadikan sebagai ide dalam perwujudan karya seni. Melalui budaya seniman berkreatifitas akan melahirkan karya yang lebih tinggi nilainya. Karena karya tersebut akan menggambarkan realitas sosial, tradisi, adat istiadat dan sistem pemerintahan suatu daerah.

PEMBAHASAN

Kreatifitas Seniman dalam Berkarya

Menurut Jakob Sumardjo dalam buku Filsafat Seni (2000) menjelaskan kreativitas muncul kalau muncul obsensi dalam diri manusia kreatif. Obsensi muncul kalau yang diinginkan individu tak sesuai dengan kenyataan di luar dirinya. Manusia kreatif bukanlah manusia kosong mental. Manusia kreatif adalah manusia yang memiliki gambaran suatu sikap baru, pandangan baru, konsep baru, sesuatu yang sifatnya esensial. Semua merupakan gambaran invidual bertabrakan dengan kenyataan yang tak sesuai. Maka terjadilah kondisi gelisah, tak nyaman, tak sesuai, tidak senang. Ketenangan jiwa akan tercapai apabila ada kesesuian, di sinilah orang yang kreatif menemukan apa yang dicarinya, disingikan secara intuisi, nalar dan rasa indrawi. Kreatifitas muncul tidak hanya dorongan perasaan tetapi melibatkan kebenaran intuitif. Jadi kreatifitas selalu dimulai dengan ketidakpuasan batin.

Proses kreatif dimulai dari dalam diri manusia berupa pikiran, perasaan atau imajinasi kreatif manusia kemudian dituangkan menggunakan media dan teknik tertentu, sehingga melahirkan karya-karya kreatif . Utami Munandar menyatakan bahwa secara luas kreativitas bisa berarti sebagai potensi kreatif, proses kreatif dan produk kreatif. Proses kreativitas melalui kegiatan seni adalah jalan sebaik-baiknya yang dapat dilakukan sebab melakukan kegiatan seni berarti terjadi suatu proses kreatif (Eny Kusumastut, 1990).

Dorongan kreatifitas pada dasarnya berasal dari tradiisi itu sendiri atau masyarakat lingkungannya. Setiap seniman dilahirkan dalam masyarakat tertentu dengan tradisi tertentu. Tradisi seni telah ada sebulum adanya seniman. Setiap karya merupakan kekayaan tradisi seni atau masyarakat pada mulanya juga karya yang kreatif pada zamannya. Seniman kreatif adalah seniman yang peka terhadap lingkungan hidunya. Baik tradisi budaya maupun kekayaan fakltual lingkungan (Jakob Sumardjo, 2000).

Berdasarkan pendapat di atas menurut Herman Von Helmholtz (dalam Winardi dalam Bastomi 1990) proses kreasi melalui tiga tahapan, yaitu : Pertama, tahap saturation yaitu pengumpulan fakta-fakta, data-data serta sensasi-sansasi yang digunakan oleh alam pikiran sebagai bahan landasan untuk melahirkan ide-ide baru. Hal ini, semakin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki oleh seniman mengenai masalah atau tema yang digarapnya semakin memudahkan dan melancarkan dirinya dalam proses menciptakan karya seni.

Kedua, tahap incubation yaitu tahap pengendapan. Semua data informasi serta pengalaman-pengalaman yang telah terkumpul kemudian diolah dan diperkaya dengan masukan-masukan dari alam prasadar seperti intuisi, di sinilah seniman berimajinasi tinggi untuk mendapatkan karya yang baru.

Ketiga, tahap illumination, merupakan tahap terakhir dalam kreasi, apabila informasi dan pengalaman sudah lengkap, penyusunan sempurna. Maka tahap ini mengekpresikan wujud karya seni yang diinginkan.

Menciptakan karya seni dalam konteks kreasi baru tidak selalu adanya perubahan sedemikian radikal. Perubahan itu harus merupakan suatu perubahan yang mendasar, yang prinsipil. Perubahan itu bias berupa perubahan komposisi, bentuk, penampilan, konsep atau tujuan karya (A.A. M Djelantik, 1999).

Jadi proses kretifitas dalam melahirkan karya seni tidak selamanya harus melahirkan sesuatu yang belum ada. Aka tetapi kreatifitas menuntut seniman menciptkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Pada dasarnya karya seni berangkat dari realitas sosial. Begitu juga dengan kreatifitas seniman dalam berkarya, mewujudkan karya berangkat dari realita, lingkungan, budaya yang telah dialami akan tetapi dalam kreasi yang baru. Kreasi yang baru merupakan proses kreatif seniman dalam mencari ide dan mewujudkan karya seni.

Budaya Sebagai Ide Kreatifitas Seniman Berkarya

Hubungan manusia dengan kebudayaan dijelaskan Hari Poerwanto (2000: 50) “Bahwa manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan mahkluk manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilkinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya”.

Kroeber dan Kluckhohn (dalam Endaswara, 2006:4) menyebutkan definisi kebudayaan dapat digolongkan menjadi tujuh hal, yaitu Pertama, kebudayaan sebagai keseluruhan hidup manusia yang komplek, meliputi hukum, seni, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagai warisan tradisi. Ketiga, menekankan kebudayaan yang bersifat normatif, yaitu kebudayaan dianggap sebagai cara dan aturan hidup manusia, seperti cita-cita, nilai dan tingkah laku. Keempat, pendekatan kebudayaan dari aspek psikologis, kebudayaan sebagai langkah penyesuaian diri manusia kepada lingkungan sekitarnya. Kelima kebudayaan dipandang sebagai struktur, yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan serta fungsinya. Keenam, kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan. Ketujuh, definisi kebudayaan yang tidak lengkap dan kurang bersistem.

Kebudayaan sebagai salah suatu sistem yang melingkupi manusia pendukungnya, dan merupakan suatu faktor yang menjadi dasar tingkah laku manusia. Baik kaitannya dalam lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya. Bagaimanapun keadaan suatu lingkungan akan menggambarkan kebudayaannya (Hari Poerwanto, 2000: 60)

Seni sebagai ungkapan kreativitas manusia akan tumbuh dan hidup apabila masyarakat masih memilihara dan mengembangkannya sampai lahirnya budaya baru dari kesenian tersebut. Seni sebagi produk budaya yang selalu berhadapan dengan masyarakat, karena kesenian selalu memberikan pesan atau amanat tentang kehidupan. Sehingga karya seni yang diciptakan mampu berkomunikasi dengan penikmatnya.

Suatu karya seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan kehidupan, yang biasa tersimpan di balik wujud fisiknya. Telah dikemukakan, karya seni yang hidup adalah karya seni yang memiliki kekuatan berdialog dengan penikmatnya, bisa membangkitkan komunikasi, bisa mendendangkan cerita visi dan misi yang diembannya, sungguh dialog itu adalah komunikasi antara seniman dengan penikmatnya (Gustami, 2004:13).

Proses penciptaan sebuah karya seni selalu berhubungan dengan aktifitas manusia yang disadari atau disengaja. Kesengajaan orang mencipta seni mungkin melalui persiapan yang lama dengan perhitungan-perhitungan yang matang dan proses penggarapannya pun mungkin memakan waktu yang cukup lama pula. Hasil seni yang dicapai melalui proses penciptaan yang melalui perhitungan teknis biasanya bersifat rasional. Hasil seni yang dicapai melalui proses penciptaan yang melalui perhitungan rasional akan mengandung estetika intelektual. Sementara itu hasil seni yang diciptakan berdasarkan perasaan biasanya bersifat emosional. Estetika yang ada pada hasil seni yang diperoleh dari aktifitas perasaan dikatakan estetika emosional (Bastomi 1990: 80).

Karya seni yang dapat berkomunikasi dengan penikmatnya adalah karya seni yang memilki nilai mencakup keseluran kehidupan manusia. Hal tersebut terdapat pada kebudayaan seperti dijelaskan di atas hubungan manusia dan kebudayaan. Kesenian itu sendiri kreativitas manusia yang tidak pernah terlepas dari konteks budaya. Jadi, proses kreatif dalam karya seni dalam konteks budaya akan lebih mudah dinikmati oleh masyarakat dibandingkan dengan konteks lainnya.

Pendorong Seniman Berkreatifitas dalam Karya Seni

Proses Kreatifitas seniman muncul kerena adanya obsensi dari seniman yang kreatif. Kemampuan obsensi tersebut muncul dalam diri individu seniman tampa di sadari. Seniman yang kreatif akan selalu berusaha melahirkan ide yang sikapnya baru, pandangannya baru, konsepnya baru, dan tidak pernah puas dengan yang ada.

Berdasarkan kondisi itulah seorang seniman yang kreatif akan selalu gelisah dengan keadaan, tidak nyaman dan tidak senang apa yang sudah ada. Seniman kreatif akan selalu berusaha mencari kesesuian dan ketenangan berdasarkan kepuasan batinnya. Apabila kepuasan batin itu tidak tercapai, maka seniman kreatif akan terus mencari-cari ide terbaru.

Proses kreatif melahirkan ide baru dimulai dari proses berfikir, perasaan berimajinasi. Berfikir kreatif berarti berjerih payah memproses untuk memahami ide atau konsep yang baru. Sehingga berfikir kreatif dapat digolongkan kepada tinggkatan berpikir yang paling tinggi. Karena tidak ada pemikiran yang lebih tinggi nilainya selain memikirkan sesuatu yang baru.

Kemudian proses kreatif tidak cukup dengan berfikir saja, akan tetapi harus diimbangi dengan perasaan atau imajinasi. Karya seni lahir sebagian besar karena imajiansi yang tinggi, prosesnya berupa perenugan dan menghayalkan sesuatu yang belum pernah terlihat. Sehingga sering orang mengatakan kreatifitas seniman itu mendekati orang gila, Karena karya yang diwujudkan, sikap yang ditampilkan dan teori yang diungkapkan di luar kebiasaan orang banyak.

Penjelasan di atas secara umum merupakan dorongan kenapa seniman ditunutut untuk berkreativitas. Selain itu, faktor tardisi dan lingkungan juga memberikan motivasi kepada seniman untuk kreatif dalam segala bidang. Tradisi dan lingkungan selalu ada pada diri seniman, terkadang orang tidak menyadari lingkungan di sekeliling adalah ide yang bagus dalam pengangkatan karya, tergantung bagaimana proses perwujudannya. Seandainya Seniman akedimis sebagai seniman yang terdidik dan professional mampu membaca realita dan peka terhadap lingkungan, karya yang diwujudkan akan mudah diterima oleh masyarakat.

Secara psikologis ada sepuluh pendorong kreatifitas seniman dalam menciptakan karya seni

1. Naluri: merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk melalukan sesuatu. Seniman dalam dirinya melahirkan kreasi-kreasi baru merupakan salah satu dari dorongan nalurinya.

2. Ego: yaitu suatua usaha untuk melakukan suatu kegiatan sebab adanya dorongan dari naluri. Berusaha dengan sekuat tenaga seorang seniman untuk mewujudkan karya yang sesuai dengan konsep yang diingikan merupakan bagian dari dorongan ego terhadap diri individu.

3. Penguatan: yaitu suatu pengokohan berupa dorongan yang kuat baik datangnya dari luar maupun dari diri sendiri. Ketika seorag seniman berkarya, kemudian karyanya mendapat pujian atau pemberian hadiah. Pujian dan hadiah tersebut akan memotivasi seniman untuk mengulangi kegiatan itu lagi. Itulah yang dikatkan sebagai penguat berdasarkan kebaiakan. Begitu juga sebaliknya, apabila mendapat kritikan terhadapa karya. Seniman akan berusaha untuk untuk lebih baik lagi dalam berkarya.

4. Berpikir tidak biasa: merupkan suatu pola pikir di luar kebiasaan. Cara berpikir tidak biasa memiliki tiga karakteristik, yaitu : Fluency (Kelancaran mencari ide) Flexibility (Kelenturan dalam proses) Originality ( menampilkan keaslian karya) .

5. Kecerdasan: merupakan kemampuan untuk mengolah pikiran, emosional dan kecakapan. Seniman yang cerdas akan berusaha melahirkan ide-ide yang lebih baik dan dapat diterima oleh orang lain.

6. Penemuan masalah: merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dalam segala kesulitan. Kesulitan yang biasanya dihadapi seniman adalah dalam proses perwujudan karya, seniman yang kreatif tidak pernah buntu dengan ide-ide.

7. Bakat: merupakan kemampuan individu melakukan tugas atas dorongan dirinya. Orang yang berbakat akan lebih mudah mendapat ide untuk melahirkan suatu karya.

8. Proses berpikir kreatif: merupakan suatua usaha seniman untuk menciptakan suatu ide dan karya yang baru dan belum pernah ada yang serupa dengannya.

9. Pengeraman tidak sadar: yaitu kemampuan yang mendorong seniman untuk berkarya dalam keadaan di alam bawa sadar.

10. Pengeraman sadar : kemampuan yang mendorong seniman untuk berkaraya dalam keadaan sadar.

Itulah sepuluh yang mendorong seniman untuk berkreatifitas dalam karya seni. Sangat jarang ada pada diri seniman kesepuluh komponen tersebut. Salah satu komponen saja ada pada diri seniman, ia telang dianggap sebagia orang yang kreatif.

Keunggulan Budaya dalam Ide Penciptaan Karya Seni

Seni sebagai ungkapan ekpresi manusia yang berangkat dari pengalaman pribadi dan realitas sosial. Pengalaman pribadi yang mendasar dan melakat adalah tradisi atau kebiasaan sehari-hari. Sedangkan realitas sosial terbagi dua yaitu realitas sekarang dan kejadian masa lalu (tradisi budaya). ide seorang seniman tidak pernah lepas dari kebudayaan, kehidupan sosial, dan pengalaman pribadi.

Manusia sebagi pencipta seni tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan, begitu juga dengan kebudayaan merupakan hacil cipta dan karsa manusia. Meskipun manusia mati budaya akan tetap apabila diwariskan kepada ketuturunannya. Salah satu tempat pewarisan budaya adalah melalui seni. baik pengangkatan dalam kontek tradisi, atau dalam konteks modern akan tetapi budaya tradisi tetap sebagai ide dan konsep penciptaan.

Ada beberapa unsur budaya yang dapat dijadikan sebagai landasan ide penciptaan karya seni.

1. Kehidupan sosial: Sarya seni dalam kontek sosial masa lalu, akan lebih cepat dipahami oleh penikmat seni. karena penikmat seolah-olah merasakan apa yang wujudkan oleh seniman. sehingga komunikasi seniman sampai kepada penikmatnya.

2. Religi/kepercayaan: Salah satu bagian terpenting dari budaya adalah kepercayaan. Karena dapat mempengeruhi seluruh sistem budaya. Karya seni dalam konteks religi akan mengingatkan pengkarya dan penikmat seni kepada penciptanya

3. Nilai moral: salah satu unsur budaya ini apabila dijadikan sebagai ide, karya seni akan memberi nasehat dan amanat kepada masyarakat.

4. Adat istiadat: pada zaman globalisasi ini adat sudah mulai punah, masyarakat sudah mengalami perubahan budaya disebabkan masuknya budaya asing. Karya seni yang mampu mempebaiki adat istiadat di lahirkan dalam bentuk simbol-simbol.

5. Sistem pemerintahan: sebagai unsur budaya yang selalu mengikuti perkembagan zaman. Karya seni dalam kontek sistem pemerintahan akan memberikan keritikan kepada para pemimpin bangsa.

Itulah beberapa unsur kebudayaan yang dapat dijadikan sebagai landasan ide untuk mewujukan karya seni. Seniman menciptakan karya berangkat dari konsep tradisi kebudayaan secara tidak disadari seorang seniman telah mengabdi kepada masyarakat. Hal ini tentu melalui karya seni telah membangkitkan kembali nilai budaya tradisi yang sudah mulai punah. Ide penciptaan dalam konteks budaya yang diterapkan dalam karya seni tersebut menjadi lebih tinggi nilainya daripada karya biasa. Tingginya nilai budaya sebuah karya akan menggambarkan pengetahuan pengkaryanya. Dengan demikian karya seni akan mampu menembus pasar global dan dunia industri kreatif.

PENUTUP

Seni sebagai ungkapan batin manusia, tidak pernal lepas dari kreatifitas dan kebudayaan. Kreatifitas sebagai proses mencari ide seniman untuk menciptakan karya. Sedangkan kebudayaan sebagai ide kreatif untuk mewujudkan karya, agar mudah diterima oleh masyarakat. Proses kreatifitas mencari ide baru dan menghasilkan karya yang baru akan melahirkan kebudayan baru juga. Sehingga seni dapat membentuk budaya melalui kreativitas seniman.

Komponen yang mendorong seniman berkreatifitas adalah adanya keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru, dibekali dengan bakat, dorongan dari dalam diri dan orang lain, pemikiran kreatif dan menyebar, dan adanya kemampuan dan keyakinan untuk mewujudkan suatu benda seni.

Budaya sebagai landasan ide seniman dalam berkreativitas akan memudahkan seniman berkomunikasi dengan penikmatnya. Sehingga ungkapan batin si pengkarya dapat dipahami oleh masyarakat umum. Karya seni yang berhasil adalah karya seni yang mampu berkomunikasi dengan penikmatnya.

Daftar Pustaka
Agam, Rameli. 2009, Menulis Karya Ilmiah, Familai Pustaka Keluarga: Yogyakarta.
Bastomi, Suwaji. 1990, Wawasan Seni Semarang, IKIP Semarang Press: Semarang.
Djelantik, A.A.M. 1999, Estettika sebuah pengantar, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia: Bandung.
Eny Kusumastuti, 2009, Proses Penciptaan dan Kreativitas dalam Seni dalam
jurnal humaniora proses penciptaan dan kreativitas dalam.
Iryan Syair, 2011 Tabloit Pituluik Pers ISI Padangpanjang: Padangpanjang
Koentjaningrat. 1990, Pengantar Ilmu Antropologi, PT Rineka Cipta: Jakarta.
Sumardjo, Jakob. 2000, Filsafat Seni, penerbit ITB: Bandung.
Poerwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar anggota IKAPI: Yogyakarta.
Tim Redaksi.1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka: Jakarta
Yandri. 2009. Pengaruh Budaya Global dalam Lokalitas Budaya Tradisi. Sebuah makalah
M. Setia, Ellly dkk 2008, Ilmu Sosiial Dan Budaya Dasar, Kencan Prenada Media Group: Jakarta.

Tulisan ini merupakan karya Ilmiah Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional Dikti dan Menjadi Karya Ilmiah Terbaik I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi di ISI Padangpanjang 2012

Padangpanjang, 2012

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: