Makam Bersejarah Pakubuwono III di Lubuk Landai

Makam Pakubuwono III.jpg02

Makam Pakubuwono III.jpg02

Oleh Ansar Salihin *)

Dusun Lubuk Landai merupakan salah satu Dusun (Desa) yang sangat tua yang terletak di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Dusun ini juga disebut sebagai kawasan tradisional karena adatnya yang masih kuat, kemudian bangunan tradisionalnya masih terlihat dan peninggalan sejarahnya menjadi kebanggaan masyarakat Lubuk Landai. Salah satu yang menjadi kebanggaan masyarakat tersebut berupa Makam Pakubuwono III yang berasal dari kerajaan Mataram. Tempat tersebut setiap tahun pada hari raya kedua masyarakat melaksanakan ziarah dan doa bersama.

Pada tahun 1746 daerah Tanah Sepenggal didatangi oleh rombongan dari Mataram pulau Jawa yang dipimpin oleh pangeran Mangkubumi. Latar belakang kepergian Mangkumi dari kerajaan adalah karena adanya perselisihan dengan saudara kandungnya Pakubowono II. Mangkubumi adalah seorang pemberontak melawan penjajahan Belanda pada saat itu di Jawa. Pada saat perundingan dengan kompeni Belanda di Desa Ponogoro, Mangkubumi berselisih paham dengan Pakubowono II. Sehingga terjadi pertentangan hebat yang tak mungkin dapat diselesaikan lagi. Oleh sebab itu Mangkubumi meninggalkan Surakarta, didampingi keluarga beserta pengikutnya menuju ke Sokawati. Kemudian disana ia bertemu dengan saudara akrabnya penembahan Notoprogo, selanjutnya Mangkubumi beserta rombongan menuju ke pedalaman Jambi. Akhirnya di daerah pedalaman jambi tersebut Mangkubumi memperoleh kekuasaan di daearah Tanah Sepenggal.

Kisah tersebut diceritakan oleh istri dari Kakubowono kepada anaknya Bowono. Pada saat itu Buwono sudah remaja, ia juga anak yang sering pembangkang seperti pamannya Mangkubumi. Pada suatu ketika Buwono bermain gasing dengan temannya, kemudian terjadi pertikaian dan melukai kepala temannya. Dari kejadian tersebut ibunya sangat marah kepada Buwono, sampai mengeluarkan kata-kata yang bukan-bukan menyangkut pamanya Mangkubumi.  Ibunya mengatakan kepada Buwono “Pamanmu adalah orang yang bagak (Menampakan kehebatan), bahkan pemberontak pemerintahan kompeni belanda, sehingga terjadi pertikaian dangan ayahmu, menyebabkan ia pergi ke pedalaman Jambi”. Berdasarkan ungkapan ibunya tersebut, Bowono mengakui kepahlawan Mangkubumi melawan penjajahan Belanda, kemudian ia berkeinginan kuat mengikuti pamannya ke Tanah pedalaman Jambi.

Selanjutnya Buwono meminta izin kepada ibunya untuk menyusul pamannya ke Tanah Jambi. Ia juga dengan tulus dan ikhlas memihak kepada pamannya,dan bersedia untuk mengikuti jejak kepergian pamannya. Kemudian ia meminta bantuan kepada ibunya berupa sebuah sampan layar serba guna, para pembantu berlayar yang berpengalaman dan dipercaya, perbekalan biaya secukupnya dan tuntunnan/pengarahan demi keselamatan.

Dengan permohonan yang demikian, ibunya merestui kepergian Buwono, hanya ibunya meminta bersabar menunggu untuk mempersiapkan semua keperluan di atas. Seminggu kemudian semua perbekalan dan perlengkapan yang diperlukan oleh Buwono sudah dipersiapakan oleh ibunya. Kemudian pada malam sebelum keberangkatan dibuatlah acara doa bersama untuk keselamatan Buwono beserta rombongan yang ikut dan agar dipertemukan Buwono dengan Pamannya Mangkubumi.

Tahun 1749 Buwono dengan seorang adik perempuan kecil dan tujuh orang pembantunya berangkat dari Surakarta menuju ke Semarang, kemudian bertolak dari Semarang melalui lautan Jawa menggunakan sampan serbaguna yang berukir rapi. Buwono pergi mengikuti jejak pamannya Mangkubumi, pada saat itu sedang memimpin kekuasaan di Tanah Sepenggal pedalaman Jambi (Sekarang masuk ke daearah Kabupaten Bungo kecamatan Tanah Sepenggal dan Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas).

Rombongan Buwono terus berlayar sampai di selat Berhala dan terus masuk ke Sungai Batangari, sampan terus berjalan sampai di Ujung Jabung. Disanalah mereka beristirahat selama tujuh hari. Kemudian rombongan berjumpa dengan Mbah Paduka Orang Kayo Hitam, mereka bertanya tentang kepada Mbah tersebut tentang Jukung dan sampan dari Mataram. Berdasarkan Jawaban dari Mbah Paduka Orang Kayo Hitam menjelaskan Jukung dari Mataram yang dipimpin oleh Mangkubumi dahulu pernah terdapar diseberang dan ditimbuni pasir. Kemudian rombongan Mangkubumi berangkat ke ulu sungai, menggunakan empat buah sampan yang dibelinya dari Mbah tersebut. Selain itu ada beberapa rombongan lainnya yang melewati sungai tersebut, seperti rombongan Raja Mataram, Sri Tanwah, Sko Benjara, Rio Anoom dan romongan lainnya. Itulah penjelasan dari Mbah tersebut yang disampaikan kepada Buwono berserta rombongannya.

Setelah berdekatan dengan Kampung Gedang seberang Jambi, Buwono melepaskan bebek dan mengikuti perjalanan bebek tersebut. Kemudian di Ujung Tanjung Kampung Gedang, Buwono bersama rombongan beristirahat dan bermalam. Pada malam itu decerikan bahwa adik dari Buwono menangis dan tidak mau lagi bersampan melanjutkan perjalanan. Kemudian naik seorang ibu ke sampan tersebut dan membujuk anak kecil itu, akhirnya adik Buwono diam tidak menangis lagi. Keesokan harinya saat mau melanjutkan perjalanan adik Buwono tidak mau ikut dan ia menangis lagi. Karena perempuan tersebut kasihan melihat anak kecil itu, ia meminta untuk merawatnya. Berbagai pertimbangan dan perjalanan yang masih jauh, Buwono memutuskan untuk meninggalkan adiknya bersama perempuan yang setia tersebut. Buwono juga memberikan kepada adiknya berupa “Caping Sang Sko” sebuah benda yang diberikan oleh ibunya di Surakarta. Benda tersebut merupakan warisan secara turun temurun langsung diserahkan kepada pihak perempuan.

Rombongan Buwono melanjutkan perjalanan dari Kampung Tanjung Pasir, sampannya dipenuhi berbagai bibit tanaman dan makanan, seperti pisang, nenas, tebu, jagung, timun, labu dan sebaigainya yang dibawa dari Kampung Tanjung. Kemudian mereka meneruskan perjalanan keulu Sungai menurut tuntutan dan pengarahan yang menghabiskan beberapa hari dalam perjalanannya. Akhirnya sampai di Banjar Bugis, Buwono dan dua orang pembantunya naik ke kampung. Kelihatan oleh mereka beberapa rumah di kampung itu dan di suatu rumah ada jemuran baju berukuran seibang sama gedang (Pakaian paksa). Dengan demikian inilah tanda keberadaan pangeran Mangkubumi yang dicari-cari selama ini oleh Buwono.

Buwono beserta dua orang pembantunya masuk ke dalam rumah, kemudian berjabat tangan dengan Pamannya Mangkubumi. Buwono memperkenalkan diri “Buwono putra sunan Paku Buwono ke II Surakarta”, Mangkumi hanya diam dan terperagah dengan sebutan tersebut. Pangeran Mangkubumi meminta kepada Buwono untuk menunjukan tanda bukti khas dari Mataram, Buwono tidak bisa menunjukan bukti tersebut karena ditinggalkan sama adik perempuannya di Kampung Gedang. Buwono hanya hanya bisa menunjukan tanda bukti berupa perahu berukir rapi dari Mataram, bukti tersebut tidak dapat dijadikan sebagai syarat mutlak ciri khas dari Mataram.

Mangkubumi masih ragu terhadap kedatangan Buwono, akhirnya Buwono memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka melewati Keluk kucing Tidur, lalu masuk dan jatuh ke air terjun sungai batang tebo, dari daearah itu juga kelihatan Tebing Tinggi tanah berpenampalan campur batu dan disebelah mudiknya kelihatan juga Guntung Lago. Buwono menemui lokasi di tanah Pilih, di tempat ini mereka beristirahat dan bermalam.

Setelah satu hari di Tanah Pilih, Buwono memerintahkan kepada rombongan untuk menebas dan membersihakan tempat yang mereka jadikan tempat istirahat. Kemudian mulai menabur bibit tanaman yang diberi orang di Kampung Gedang tanjung pasir. Beberapa hari kemudian bibit tanaman tersebut tumbuh subur dan merata dengan baik. Dengan demikian romongan bergairah untuk memperluas menaman bibit-bibit tersebut. Buwono berserta rombongan juga mendirikan bebrapa pondok untuk tempat berlindung dari serangan musuh dan binatang buas.

Suatu ketika datang Mangkubumi secara mendadak ke tempat tersebut, karena ini  adalah perkebunan kapas kepunyaan Mangkubumi. Dilihatnya ladang kapas telah musnah dan ganti dengan tamanan lain, Mangkubumi sangat marah kepada rombongan Buwono. Kemudian ia mengusir rombongan Buwono dari tempat tersebut. Akan tetapi mereka hanya bisa diam dan membiarkan Mangkubumi marah-marah. Buwono tetap juga tidak mau meninggalkan tempat tersebut, akhirnya Mangkubumi balik ke Kampung Banjar Bugis.

Beberapa lama kemudian Mangkubumi mengutus pasukan untk mengusir rombongan Buwono, Namun mereka tetap saja tidak mau meninggalkan tempat itu. Mereka juga selalu waspada terhadap serangan musuh dan mempertahankan lahan yang ditanami bibit makannan itu. Karena tempat tersebut sesuai dengan tuntutan dan pengarahan dari orang tuanya di Surakarata Mataram.

Selanjutnya datang lagi utusan Mangkubumi menjumpai Buwono terkait hal sama dengan diatas, mereka tetap saja tidak mau meninggalkan tempat Tanah Pilih. Mangkubumi terus menulusuri tujuan rombongan Buwono, apakah memang benar Buwono adalah anak dari Pakubowono II. Sampai dengan utusan yang ketujuh kali Mangkubumi ingin menyelesaikan masalah itu secara berunding. Pakubuwono berserta pasukan telah mendirikan sebelas rumah dan membuka lahan di Tanah Pilih Lebak Landai (Lubuk Landai) selama lima tahun (1749-1754).

Awal tahun 1754 Pangeran Mangkubumi mendirikan Balai Panjang Tanah Sepenggal di Keluk Kucing bertepatan disebelang pulau seribu bulan (Sekarang Dusun Tanah Periuk). Setelah balai tersebut selesai, langsung diresmikan dan diangkat Mangkubumi menjadi Raja yang bergelar Seri Raja Tanah Sepenggal yang berkedudukan di balai Panjang Tanah Sepenggal Tanah Periuk.

Selanjutnya mengadakan sidang yang pertama masaalah padang kapas Mangkubumi yang yang ditebas oleh rombongan Buwono. Sidang tersebut dipimpin oleh Wan Oemar Tuo Negeri Kampung Gedang Tanjung Pasir (Raja Pulau Dusun Manggis). Hasil sidang tersebut bahwa Buwono dinyatakan bersalah terhadap perlakuannya sebagai orang pendatang. Sehingga ia dikenakan “Yang delapan Penuh serta Denda” kemudian Mangkubumi dan Buwono menyetujui keputusan tersebut. Namun Buwono meminta permohonan diberi tangguh perbayaran dan diberi izin untuk pulang sebentar ke Mataram.

Berdasarkan keputusan tersebut Buwono berani bertanggungjawab terhadap kesalahannya dan menerima hukuman berdasarkan peraturan yang berlaku. Dengan demikian Mangkubumi membenarkan Buwono adalah keponakannya anak dari sudaranya Sri Sunan Pakubuwono ke II yang memerintah di Surakarta Tahun 1727-1749. Kemudian Mangkubumi juga memberikan izin kepada kepada Buwono untuk pulang ke Mataram.

Buwono bersama tiga orang pembantunya berangkat menuju Mataram dengan sampan serbaguna. Sampai di Mataram ia langsung menghadap ibunya bersujud meminta maaf, pada saat itu ibunya sedang sakit. Lalu Buwono menceritakan tentang jerih payahnya dalam perjalanan menuju Tanah Jambi mengikuti jejak Mangkubumi. Kemudian menjelaskan juga tujuan dan maksudnya pulang ke Mataram, yaitu peresmian sebelas rumah di Tanah Pilih dan mengundang Kesenian Beda Mataram untuk menghadiri acara tersebut.

Ibunya menyetujui permintaan Buwono, kemudian Buwono menghadap ketua kesenian menyampaikan hal tersebut. Ketua kesenian menyambut baik penyampaian Buwono dan mempersiapkan tim kesenian untuk berangkat ke Tanah Pilih untuk meresmikan negeri dan sebelas rumah. Lalu Buwono dan rombongan kesenian Bende Mataram berangkat dari Mataram ke Tanah Pilih menggunakan dua buah sampan.

Ketika sudah sampai di Tanah Pilih, Mangkubumi langsung berkunjung menjumpai Buwono berserta rombangan kesenian Bede Mataram. Ketua kesenian tersebut juga Paman Buwono adik dari ibunya. Dengan demikian mantaplah perbincangan antara kedua pamannya tersebut. Dalam pertemuan yang singkat itu Ketua kesenian dan Mangkubumi merumuskan masalah peresmian negeri yang bernama Lebak Landai dan pemakaian sebelas rumah. Kemudian mereka juga menjodohkan Buwono dengan Sri Ratu Daya Rani putri dari ketua kesenian juga saudara sepupu Buwono. Selanjutnya Buwono juga dilengkapi dengan gelar PAKUBUWONO III, karena ia adalah anak pertama dari Sri Sunan Pakubuwono II. Perjodohan tersebut sesuai dengan istilah “Jadi masih serumpun kepah yang tinggi/sepucuk jalo panjang”.

Untuk menunaikan janji Buwono sebelum pulang ke Mataram mengenai kesangggupannya menerima denda yang dijatuhkan ketua sidang atas perbuatnya, ia beserta dua orang pengiringnya berangkat menuju Balai Panjang menemui Mangkubumi di Tanah Periuk. Dihadapan Mangkubumi, Wan Oemar Ketua Sidang dan datuk Rio Anoom Abdi Masyarakat Tanah Sepenggal, Buwono menyerahkan hutang dan denda yang dikenakan berdasarkan hukum adat dan peraturan yang berlaku.

Selanjutnya Buwono juga menyampaikan niatnya untuk melakukan peresmian negeri dan rumah yang dibangunnya di lokasi Tanah Pilih Lubuk Landai. Mangkubumi Langsung membatahnya kalau hanya meresmikan kedua tempat tersebut. Maksud Mangkubumi ingin menikahkan Buwono dengan Sri Ratu Daya Rani sesuai dengan perundingan Mangkubumi dengan ketua kesenian. Berdasarkan permintaan tersebut Buwono mengikuti keinginan kedua pamannya.

Acara tersebut dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, terhitung mulai tanggla 11 sampai dengan 13 Maret 1754 dengan mengundang beberapa tamu sebagai berikut: Pemuka Masyarakat Bilangan V/VII, Pemuka Masyarakat Jujuhan, Pemuka Masyarakat VII Koto, Pemuka Masyarakat Bati II, Pemuka Masyarakat Bati III Ilir, Pemuka Masyarakat Bati III, Pemuka Masyarakat Bati VII, Pemuka Masyarakat Teluk Rendah, Pemuka Masyarakat Kampung Gedang Tanjung Pasir, Pemuka Masyarakat Tahtul Yaman Kesenian Melayu, Anak Negeri nan VII dalam Tanah Sepenggal.

Pada tanggal 11 Maret 1745, Pangeran Mangkubumi meresmikan tiga serangkaian sukses, Pertama peresmian Desa/Dusun yang bernama Lebak Landai sepuluh tahun kemudian dirubah menjadi Lubuk Landai. Kemudian yang kedua peresmian Rumah nan 11 buah sudah selasai dibangun, menurut ketentuan/aturan Buwong rumah ini diberi nama bertulis Rumah Adat Balembago juga dikatakan rumah nan Batanganai. Sepuluh rumah sebagai rumah adat Balembago dan satu Rumah sebagai Rumah adat (Rumah gedang). Setelah itu yang terakhir peresmian pernikahan Pakubuwono III dengan Sri Ratu Daya Rani, acara ini berlangsung di Rumah Adat Gedang atau Rumah Adat Negeri.

Selama Tinggal di Lubuk Landai Pakubuwono III dan Sri Daya Rani mendapat lima orang anak. Anak tersebut diantaranya empat orang perempuan Kali Urai, Meh Mato, Meh Baik, Meh Urai dan satu orang anak laki-laki Rajo Nitah, ia meninggal berumur enam tahun lebih dahulu sebelum orang tunya. Pakubuwono Wafat tahun 1787 di Kampung Betung Dusun Lubuk Landai dekat Sungai Batang Tebo Jembatan Perlintasan Lubuk Landai dengan Pasar Lubuk Landai. Di makam tersebut juga ada Kuburan Isterinya Sri ratu Dara rani dan Kuburan Anak Laki-lakinya Rajo Nitah. Sedangkan empat orang anaknya yang lain menikah ada yang di Tanah Periuk, Candi, Rabah Ulek dan satu Orang di Lubuk landai. Maka di Makan tersebut hanya ada tiga kuburan Pakuwbuwo III, Sri ratu Daya rani dan Rajo Nitah. Sedangkan Mangkubumi Pamannya, setelah peresmian tiga serangkaian acara di atas ia kembali lagi ke Mataram Suarakarta. Sehingga peninggalan Mangkubumi secara pisik tidak dapat ditemukan di Tanah Periuk.

Menurut kebiasaan masyarakat Lubuk Landai secara turun temurun sampai sekarang yang dijelasakan Datuk Rio Mudo Muhammad Isa (Kepala Dusun). Setiap Hari lebaran kedua Masayarkat Lubuk Landai melaksanakan Ziarah dan doa bersama di makam tersebut. Acara itu dimulai dari makam pahlawan perjuangan masa belanda yang berada di Lubuk Landai kemudian berakhir di makam Pakubuwono. Tradisi ini bukan hanya diikuti oleh masyarakat Lubuk Landai, akan tetapi juga diikuti oleh Masyarakat diluar lubuk landai seperti Tanah Peruik, Candi dan daerah lainnya di Lingkup Kabupaten Bungo. Berdasarkan potensi tersebut sehingga pemerintah Daerah bekerjasama lembaga lainnya memberi sebutan untuk dusun ini sebagai Kawasan tradisional Makam bersejarah.

Nama Lubuk Landai/Lebak Landai, diambil dari kata Lebak (Air tergenang peraiaran Sungai) yang berada di Sungai Batang Tebo dekat Masjid Lubuk Landai sekarang. Kemudian Landai (Air yang dangkal) dan ada juga yang mengatakan Landai berarti keris yang jatuh ke lebak. Kemudian sepuluh tahun kemudian Lebak diganti dengan Lubuk (Air yang dalam sekaligus mengerikan). Dengan demikian secara pemahaman masyarakat dahulu yang ditulis Husin Djafar Lubuk-Landai berarti Dalam-Dangkal. Disisi lain mengartikan sesui dengan pemahaman di atas yang dijelaskan oleh Ibrahim Ketua BPD Lubuk Landai, Lubuk berarti Air tergenang dan Landai berarti Keris. Maka nam Lubuk Landai diambil dari sebuah peristiwa jatuhnya keris ke dalam air yang dalam atau Lebak. Kedua pendapat tersebut dianggap kedua-duanya benar saling melengkapi satu sama lain.

Penulis adalah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Institut Seni Indonesia Padangpanjang-Sumatera Barat yang bertugas di Dusun Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo Provinsi Jambi

Sumber

Husin Djaffar, Buku “Pakubuwono III mengikuti jejak Pamannya Pangeran Mangkubumi”

Akhmad Ramadhan, Sebuah Artikel “Sejarah Lubuk Landai” (2012)

Wawancara Datuk Rio Lubuk Landai Muhammad Isa (2013)

Wawancara Ketau BPD Lubuk Landai Ibrahim (2013)

Wawancara Kaur Umum Lubuk Landai Yasri (2013)

  1. 12 Juni 2014 pukul 09.40

    Posting yg memuaskan gan..!

    By; ngan putra lubuk landai

  2. anon
    18 Januari 2015 pukul 01.30

    Bukankah sunan pakubuwono iii raja surakarta dan dimakamkan di imogiri

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: